Senin, 18 Juli 2011

CERPEN KITA-Sebenarnya Indah

Suara arus air terjun dan suara burung begitu menenangkan hati dihari sepagi ini tempat ini terasa sepi dan pantas untuk dijadikan tempat merenung. Di tempat ini sangat pas sebagai tempat kita untuk merancang peta kehidupan yang akan datang beberapa detik yang akan datang, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dekade, tapi abad tidak mungkin mendapatkan usia 63 saja kita sudah beruntung. Karena setiap orang akan merasakan indahnya hidup jika dia punya peta kehidupan walau terkadang peta itu tak selamanya kearah yang kita inginkan. Aku ingin berucap selamat pada kalian yang kini bisa memiliki usia 63 tahun, kalian beruntung. Aku juga beruntung karena beberapa waktu yang lalu dokter mengatakan usiaku hanya tinggal beberapa bulan lagi. Karena sudah tahu usiaku hanya tinggal beberapa saat lagi, itu yang membuatku ingin membahagiakan banyak orang, berbuat baik kepada semua orang, yang pasti yang terbaik yang bisa aku lakukan. Bukankah jarang manusia yang bisa mengetahui kapan kita akan pergi dari dunia ini? Dan aku merasa aku salah satu yang beruntung…
Aku adalah ABG super nakal disekolah, aku anak nakal untuk orang tuaku, aku kekasih buruk untuk yang mencintaiku, aku sahabat yang tak pantas bagi teman-temanku. Tak ada yang bisa dibanggakan dari diriku, mungkin banyak orang yang membenciku. Setiap waktu aku berjanji pada diri sendiri akan merubah diri ini nyatanya aku tak pernah berubah, sedikit lebih baik pun tidak. Wajar bila guru menghukum, wajar bila ayah-ibu marah, wajar bila kekasihku sakit hati dan benci, wajar bila sahabatku memusuhi. Semua itu menjadi kenikmatan bagiku. Tapi setelah vonis itu aku merasa semua hidup yang telah kulalui tak ada yang berarti. Sengaja liburan kali ini aku berlibur ke tempat ini untuk menikmati alam dan mensyukuri keberuntungan karena aku sudah tahu saat terakhirku menghirup udara seperti ini.
“fikri, sendiri aja disini?” oh ini dia sepupuku namanya dewi, gadis sunda yang anggun, baik, sholeh, dia begitu sempurna sebelumnya aku benci dia karena sifat baiknya tapi untuk saat terakhirku aku tak lagi bisa melakukan yang biasa aku lakukan membencinya.
“ia lagi mau nikmatin air terjun aja”
“dari tadi dicariin mau diajak sarapan. Ayo pulang kita sarapan dulu. Aku yang masak lo?”
“yang bener kamu yang masak? Ya udah ayo aku pengen nyobain masakan kamu” mungkin dewi bingung baru kali ini aku bicara padanya tanpa bentakan. Setiap kata-kata halusnya biasanya aku balas dengan bentakan.
“nah ini dia dateng juga yang kita tunggu-tunggu” ucap ayahku
“fikri darimana kita tungguin dari tadi mau diajak sarapan bareng keluarga om wisnu” ibu menyambung kata-kata ayah
“maaf ayah-ibu tadi fikri mau ngerasain pagi di air terjun, mau tahu rasanya. Eh enak banget suasananya tenang” ayah-ibuku saling bertatap mata, bingung mendengar kata-kata sopan yang aku ucapkan. Dengan mereka aku tak pernah berucap sesopan ini, mungkin ini pertama kalinya aku melakukannya.
“fikri anterin ibu kepasar ya ibu mau belanja oleh-oleh buat tetangga. Siang nantikan kita mau pulang”
“ia bu. Sekarang ibu mau dianterinnya fikri pinjam motor sama om dulu ya” aku bergegas berlari meminjam kunci motor pada om wisnu.
“ayo bu kita berangkat” aku mengajak dengan senyuman. Lagi-lagi wajah bingung tak mengerti ibuku muncul.
“kamu kenapa fik? Kok kayaknya berubah?”
“jadi ibu gak mau anaknya berubah ni?”
“ya enggaklah. Ibu malah jadi seneng, tapi kamu berubahnya kayak orang mau mati aja?” ibu coba bercanda padahal sebenarnya memang ia sesaat lagi aku akan pergi meninggalkan kalian semua
“emang, hhehehehehe” aku tertawa dalam hati bersedih
“ah kamu diterusin lagi canda ibu.”

                                                                        **************************

Setiap saat sebenarnya pikiran ini tak menentu kemana akan pergi, rasa takut mati selalu ada karena masih banyak dosa yang aku punya tak sebanding dengan perbuatan baik yang aku miliki. Entah mulai saat ini aku menjadi menikmati syair yang dinyanyikan raihan yang mengatakan aku tak pantas disurgamu dan kutakut kenerakamu, kemana nantinya aku akan pergi tak tahu tuhan yang akan menentukan aku sebagai hambanya hanya harus berusaha selama masih ada kesempatan.
Hapeku berbunyi “halo, ia lex. Oh anak-anak mau ngumpul. Oke deh udah suruh pada dateng aja kerumah gua. Ia sekarang. Yaudah suruh pada jalan sekarang. Okok” alex sahabat yang sering menemani walau dia tahu aku bukan orang yang baik sebagai teman.
“bu, teman-teman fikri mau dateng. Ada makanan apaan ya yang bisa buat ngejamu mereka?”
“yaudah sekarang kamu beli makanan ke warung, kue-kuean nanti minumnya biar ibu yang nyiapin” aku segera pergi. Aku beli agar-agar kesukaan alex, martabak kesukaan agus, mie ayam buat anto, bakso kesukaan salsa, bubur kacang ijo buat nining, dan yang istimewa nasi kucing kesukaan desti kekasih yang pernah aku bohongi cintanya. Walau tahu aku mengkhianatinya tapi dia tak marah sedikitpun bahkan dia menjadi lebih baik, sungguh gadis sempurna yang hatinya telah kulukai, aku sangat berdosa maafkan aku.
“assalamualaikum” itu mereka semua makanan sudah aku siapkan ditempatnya masing-masing.
“waalaikumsalam, ayo semuanya masuk. Kangen gua sama lo semua.”
“ama kita semua apa ama desti??” goda alex aku tersipu malu. Aku rindu pada kalian semua sekarang tapi mungkin jika bisa aku ingin bisa kalian rindukan untuk selamanya setelah ini.
“udah ayo pada masuk” ibu menghampiri kami.
“wiiiiiiiihhhh, jadi ngerepotin ibu ni. Makanan yang disiapin makanan spesial semua yang dateng ni. Wah jarang-jarang kita dijamu ama yang kayak gini” janda agus
“oooohhh ini tadi idenya fikri. Dia lagi mau beliin makanan buat kalian” sahut ibu
“waah kayak orang mau mati aja lo sob, nyiapin kayak gini tumben baek hehehehe” ucap anto
“hehehe emang bentar lagi juga mati hehehehehe” aku tertawa seperti biasa karena lucu dengan hal yang tak biasa seperti ini, jangankan menyiapkan makanan mempersilakan mereka datang kerumahku saja aku sulit untuk mengizinkan. Aku ambil nasi kucing lalu kutarik desti ke halaman belakang rumah yang ditumbuhi rerumput dan berbagai jenis bunga yang ibu pelihara.
“desti sayang, aku mau minta maaf kalo selama ini aku sering berbuat kasar, salah, kesel, boong sama kamu ya. Aku gak bisa kasih apa-apa ke kamu. Tapi aku Cuma beliin makanan kesukaan kamu nasi kucing. Aku suapin ya makannya”
“kamu gak perlu kasih aku apapun karena dengan kamu yang bisa bicara lembut kayak gini ke aku aja udah jadi hal yang paling bahagia-in aku. Oke deh tapi kamu ikut makan juga ya?” aku menganggukkan kepala, kenapa tidak sejak dulu aku seperti ini hidup dengan berbaik hati ternyata bisa membuat kita bahagia mungkin untuk selamanya. Sahabat, orangtua, kekasih semuanya menjadi hal terindah yang bisa menjadikan kita selalu bisa tersenyum kapanpun. Hari yang paling bahagia untukku desti manisku, aku sangat mencintainya walau selama ini aku lebih suka membuat dia terluka dengan segala salah yang kulakukan.
Kini telah kudengar kicauan burung bersahutan, ternyata adzan subuh sudah berlalu aku bangkit membasuh wajah dengan air suci mungkin akan membuat aku mendapat sedikit kedamaian dipagi ini. Masjid hanya berjarak tiga rumah, aku langkahkan kaki kesana lengkap dengan pakaian shalat, sarung, baju koko, dan peci. Ternyata bangun sepagi ini membuat sela-sela otak kita bisa terisi dengan pikiran positif. Aku menyesali apa yang dulu aku perbuat, aku tak pernah melaksanakan shalat lima waktu walau ayah-ibu memaksa aku tetap saja lebih mencintai prinsip yang aku agungkan “jika aku akan menjadi orang baik maka suatu saat aku pasti akan berubah, dan lakukanlah sesuka hati apa yang ingin kau lakukan” jadi selama ini hidupku adalah hidup yang suka-suka yang sebenarnya membuat aku resah. Penyakit ini menghentikan kesuka-sukaanku itu, tapi tak ada yang tahu tentang penyakit ini. Ayah-ibu sebenarnya yang mengantar aku periksa kerumah sakit namun saat mengambil hasilnya aku berangkat sendiri, hasil yang menyakitkan mungkin untuk mereka karena mereka akan kehilangan anak satu-satunya yang penuh kenakalan. Namun sedikit waktu yang aku punya aku ingin membuat mereka bisa tersenyum walau nantinya mereka akan hampa.
Shalat subuh selesai aku ingin sedikit berdiskusi dengan imam shalat tadi mendengar suara bacaannya aku merasa dia adalah orang berilmu tinggi..
“assalamualaikum ustadz”
“waalaikumsalam warahmatullah hibarakatu, ada apa anakku?”
“saya Cuma mau bertanya. Pantaskah kita menyesali masa lalu yang kelam yang berlumur dosa?”
“tidak nak, yang perlu kau lakukan adalah memaafkannya bukan menyesali. Karena jika kau menyesalinya maka masa depanmu akan selalu terbayangi oleh masa lalu yang kelam namun jika kau memaafkan masa lalumu maka kau akan memperindah masa depanmu. Cobalah melangkah dari detik ini dengan perubahan maafkan masa lalu, dan mulailah memperindah masa depanmu” jawaban yang cukup memuaskan dahaga batinku selama ini.
“fikri, ayah mau kasih kamu hadiah kamu maunya apa? Motor, laptop, hape, atau apa terserah kamu nanti ayah beliin langsung hari ini juga?” aku berpikir semua itu tak akan ada gunanya karena sesaat lagi akupun akan pergi semua itu tidak mungkin aku bawa, mana mungkin aku bisa berkendara menghadap malaikat penjaga kubur nanti, mana mungkin aku chatting dan facebookan saat menunggu hari penimbanga amal nanti, mana mungkin aku bisa telfonan dan sms ayah-ibu dari dalam kubur mengabarkan keadaanku disana.
“oh iya aku minta uangnya dikasihin ke masjid deket rumah kita aja tu yah, soalnya kan masjidnya lagi renovasi dan kebetulan masih kurang biayanya kita tambahin aja walau Cuma sedikit iyakan bu” ayah-ibu saling berpandangan lalu mereka memeluk erat tubuhku.
“kami bahagia sekali melihat kamu yang bisa berubah seperti sekarang nak, mungkin inilah jawaban dari allah swt tentang doa-doa kami selama ini agar anak kami satu=satunya menjadi anak yang sholeh” airmata hampir menetes walau hati sejak tadi sudah menangis, karena anak sholeh ayah-ibu tidak akan lama lagi bertahan disisi kalian.
Ini bulan ketiga aku harus berangkat periksa ke dokter.
“dok bagaimana hasilnya?”
“luar biasa, ini keajaiban penyakit kamu sembuh total, mukjizat” ucapnya aku bahagia, sungguh bahagia dan aku segera pulang karena matahari sudah hampir tenggelam.

                                                               ********************************

Entah kenapa malam ini aku ingin bangun ditengah malam, saat ku buka jendela kamarku kulihat diluar sana ada taman yang sungguh sangat indah dengan air susu yang mengalir, lalu tampak berbagai macam bunga yang belum pernah kulihat seindah ini, wanita-wanita muda dan cantik pun ada sedang bermain manja. Semua yang ada disana tersenyum riang tak ada beban aku ingin menjadi bagian dari mereka. Kututup jendela kamarku lalu aku pergi mengambil air wudhu, dengan pakaian serba putih aku bertakbir allah huakbar sampai akhir tahiyat ashadu allah illah hail lallah waashadu anna Muhammadarrasullah hembusan angin dingin mengitari tengkukku aku merasakan kedamaian……………..
Poskan Komentar