Kamis, 05 April 2012

Jalan-jalan ke TASIKMALAYA

Sejarah berdirinya Kota Tasikmalaya sebagai daerah otonomi tidak terlepas dari sejarah berdirinya kabupaten tasikmalaya sebagai daerah kabupaten induknya. Sebelumnya, kota ini merupakan ibukota dari kabupaten Tasikmalaya, kemudian meningkat statusnya menjadi kota administrasi tahun 1976, pada waktu A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya, dan kemudian menjadi pemerintahan kota yang mandiri pada masa Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya dipimpin oleh bupatinya saat itu H. Suljana W.H.
Waktu menunjukkan pukul 22.00, kami semua bersiap untuk berangkat menuju singaparna-tasikmalaya. Dalam rombongan ini kami berjumlah 8 orang, menggunakan sebuah mobil pribadi. Perjalanan dimulai! Didalam mobil banyak hal yang diperbincangkan tidak ada habisnya, habis materi pertama akan disambung lagi dengan materi kedua, habis materi kedua akan disambung lagi dengan materi ketiga, begitulah seterusnya. Karena saya paling muda didalam mobil ini lebih baik menjadi pendengar daripada menimpali pembicaraan tapi mengerti apa pembahasannya. Tapi dari banyak bahasan yang dibicarakan Cuma satu bahasan yang paling panjang tentang pernikahan karena perjalanan kami kali ini adalah untuk menghadiri sebuah pernikahan seorang sahabat di singaparna-tasikmalaya.
Perjalanan ini bukan pertamakali tapi untuk yang kesekiankalinya aku melewati jalur selatan, dalam perjalanan malam hari sang pengemudi harus benar-benar seorang yang ahli karena dijalur ini banyak sekali kelokan-kelokan yang salah sedikit saja mungkin akan terjadi kecelakaan. Aku selalu takut melewati jalan ini, setiap kelokan membuat aku berpikir banyak kecelakaan yang terjadi dijalur ini. Tapi sudahlah! Setelah sampai dibandung aku merasakan mata sudah tak sanggup lagi terbuka, aku pejamkan saja mata ini.
“berenti-berenti!” teriakan seorang kawan ini membangunkan aku. Hah! Baru sebentar rasanya mata ini terpejam.
“kenapa?” tanya pengemudi
“saya mau buang air besar udah gak tahan lagi”
“mau bongkar muatan rupanya hahaha, kita cari masjid terdekat saja” ujar sang pengemudi. Aku hanya ikut tertawa melihat wajah kawan yang ingin buang air besar. Wajahnya begitu serius tapi masih saja dijadikan bahan lelucon. Perjalanan seperti ini memang selalu menyenangkan karena candaan adalah menu utama dari mulai samapi akhir perjalanan. Kami sudah sampai di simpang lima singaparna dari sini sedikit lagi kami akan sampai dirumah sahabat yang akan melangsungkan pernikahan. Tepat pukul  03.00 kami sampai disebuah mesjid yang sangat besar. Semua rombongan keluar dari mobil, aku yang sudah tak bisa lagi menahan kantuk langsung merebahkan tubuh di beranda mesjid yang memanjang kira-kira 10 meteran.
“sholatullah,,,,,,” suara shalawat aku bangun, kulihat jam pada handphone, sudah pukul 05.20. pantas saja sudah banyak orang yang mondar-mandir tapi kenapa tak ada satupun orang yang membangunkan aku. Aku dengan segera mengambil air wudhu dan langsung melaksanakan shalat subuh seorang diri karena dalam mesjid yang sangat luas ini semua orang sudah selesai melaksanakan shalat.
Mentari mulai terbit perlahan, aku duduk bersama yang lain di beranda mesjid. Mesjid ini dikunjungi begitu banyak orang kebetulan pagi ini hari minggu, banyak gadis-gadis berkumpul duduk diberanda sambil tertawa bercerita, rata-rata menggunakan hijab walau ada yang tidak, ada juga pasangan muda-mudi yang lalulalang, pasangan suami-istri, begitu banyak manusia berkerumun ditempat ini, kebetulan diseberang mesjid ini ada taman yang cukup luas, ouh! Nama tempat ini alun-alun singaparna, terang saja banyak orang yang berkumpul disini. Mesjid ini bernama mesjid agung singaparna.
“ayo kita jalan sekarang, sudah  ditunggu” semuanya sudah menumpang mandi dimesjid agung ini, setelah semua berdandan rapi dengan batiknya, kami siap menuju tempat undangan. Tempat acara dari mesjid ini sekitar 200 meter baru kita akan sampai. Akhirnya kami sampai juga, acara sudah dimulai, susunan acara sudah dibacakan yang unik adalah pembacaan susunan acaranya dengan bahasa sunda. Kebetulan sahabat yang menikah adalah orang sunda dengan jodohnya juga orang sunda wajarlah acara yang dipakai serba sunda.
Saat paling membahagiaakan adalah saat sahabat kami yang menikah mendengarkan kata “sah” dari semua orang walaupun dia harus mengulang ijab kabul dua kali tapi akhirnya dia berhasil juga. Selamat kawan atas hari yang bahagia ini. Sampai akhirnya kami harus pamit, tidak lupa kami foto bersama sang pengantin.
Aku harus tinggal seorang diri disini, karena semua akan kembali ke jakarta kecuali aku. Karena aku punya perjalanan sendiri, aku harus meneruskan perjalanan ke cibeureum-tasikmalaya. Selama seminggu aku akan magang disana. Rombongan akhir sudah pulang aku harus menunggu seseorang yang akan menjemputku untuk sampai ke cibeureum. Aku coba menghubungi orang yang bisa menjemputku.
“hallo iya pak saya di alun-alun singaparna. Bapak dimana?” setelah sekian kali aku menghubungi akhirnya diangkat juga.
“ oke kamu tunggu disitu saya akan kesana.”
“oke pak” aku langsung melangkahkan kaki sepertinya aku ingin naik becak saja tapi setelah berpikir ulang lebih baik jalan kaki saja menuju alun-alun. Lelah sekali rasanya jalan di saat terik seperti ini, aku duduk di beranda mesjid.
“mau kemana a’? seperti aa bukan orang sini?” seorang pemuda mengagetkan aku
“ouh iya saya dari jakarta mau ke ciberem”
“ci-beu-reum yang bener a’ bukan ciberem begitulah saya nada bisa salah arti juga lo a’ bahasa sunda” dia tersenyum. Dalam hati aku tertawa ternyata aku salah penuturannya.
“ouh iya saya mau kesana kalau dari sini masih jauh a’?”
“kira-kira 3 kali naek angkotlah a’” lumayan juga jauh
“nuhun a’ temen saya udah selesai ke kamar mandi. Pamit a’” aku menganggukkan kepala. Handphone-pun berdering.
“ya hallo pak!”
“kamu dimana?”tanya suara diseberang sana.
“saya di alun-alun singaparna pak”
“dimananya kamu. Saya sudah disini” katanya. Berulang kali aku bilang aku disini dia-pun mengatakan hal yang sama kalau dia sudah disini, entahlah siapa yang salah. Setelah lelah aku memutari alun-alun singaparna. Kami saling bersikeras jika kami sudah berada disini.
“oke sekarang kamu ada dimana?”
“saya dari tadi di alun-alun singaparna pak”
“ouh kenapa tidak bilang kalau kamu di alun-alun singaparna. Saya di simpang lima, ya sudah kamu naik angkutan umum saja ke simpang lima nanti saya jemput. Masih jauh soalnya dari sini kesana.” Pantas saja dari tadi kami tak bertemu ternyata masing-masing salah mengartikan nama tempat.
“okelah pak” jam sudah menunjukkan pukul 11.00 terik matahari sangat menyengat, aku begitu berkeringat kenapa tak bilang dari tadi aku harus naek angkot. Aku tidak tahu harus naek angkot apa untuk mencapai simpang lima. Lebih baik bertanya bukan begitu juga saran pepatah ‘malu bertanya sesat dijalan’.
“nuhun a’?” sedikit berlagak sunda agar terlihat ramah seperti warga sekitar.
“kalau saya mau ke ci-beu-reum naek angkot yang mana ya a’?” dengan susah payah aku melafalkan cibeureum agar tak dipermasalahkan lagi haha.
“ouh naek saja angkot ini nanti tanya lagi sama kerneknya” dengan segera aku menaiki angkot yang ditunjukkin orang tadi.
“a’ saya mau ke ci-beu-reum nanti saya turun dimana ya?”
“ouh nanti saya tunjukkan a’” ah aman rasanya kalau sudah begini aku bisa duduk tenang tidak lagi panik. Cuaca diluar sudah rintik-rintik gerimis. Kernek itu turun menghampiri sebuah angkot putih berbicara sesaat.
“a’ itu angkotnya naek saja.”
“makasih a’ makasih” segera aku melompat ke angkot selanjutnya. Aku duduk tenang saja di angkot ini. Tak berapa lama yang sopir bicara padaku.
“a’ jalan aja ke seberang sana nanti ada angkot putih naek aja angkot itu bilang simpang lima” ujar sang sopir. Hujan cukup deras aku angkat kupluk jaket-ku untuk menutupi kepala dari air hujan dan mulai berjalan menyeberangi jalan yang cukup lebar ini. Sampai diseberang sudah ada angkot putih yang akan aku tumpangi, angkot ini diam disini untuk menunggu penumpang.
“daerah ini apa namanya pak?” aku coba bertanya
“alun-alun tasik, kamu mau kemana?” aku mengangguk alun-alun tasik rupanya
“saya mau ke simpang lima” setelah dapat penumpang, angkotpun mulai jalan. Sekitar 15 menit aku sudah sampai disimpang lima. Sopir yang memberitahu jika tempat ini simpang lima, aku turun dan mulai menelpon
“halo pak saya sudah disimpang lima”
“saya dari tadi disimpang lima, saya pakai mobil jazz putih” aku lihat sekeliling tak ada yang menggunakan jazz putih disini.
“dimana pak saya tidak liat?”
“didekat pos polisi.”
“saya di pos polisi pak?”
“kamu simpang lima mana? Jangan simpang lima tasik yang tugunya kecil ya?”
“iya pak yang tugunya kecil” akhir suara di seberang sana tertawa dan mengatakan tunggu sebentar disana saya mau jalan. Ternyata salah lagi sudah hujan, salah tempat lagi, apes betul hari ini.
 Seseorang diseberang jalan melambaikan tangan padaku, itu dia yang menjemputku. Akhirnya ketemu juga, jaket sudah basah lagi. Pertama berjabat tangan dia sudah mulai tertawa dan bercerita tentang kesalahpahaman kami. Aku dibawanya ke tempat magangku selama seminggu nanti.
Huaaaa! Bangun pagi udara dingin begitu menusuk kulit, pagi pertama ditasik. Aku suka dengan udara ini yang membuat aku semakin semangat untuk bangkit belajar menjadi seseorang yang lebih baik.  Tak banyak hal yang aku lakukan di sini hanya sekedar belajar, seminggu berlalu tapi selama seminggu itu banyak tempat yang aku kunjungi, hal menarik pertama ditasik adalah rumah makan prasmanan yang murah meriah ada yang hanya enam ribu rupiah, ada yang delapan ribu rupiah, makan disini sudah murah sepuasnya lagi memilih menu. Selain itu banyak terdapat kolam renang yang menarik di tasik salah satu kolam renang tirta, Mengunjungi kolam renang Tirta Alam bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghabiskan liburan akhir pekan. Bertempat di Jalan Garuda Kota Tasikmalaya, kolam renang ini mempunyai banyak wahana yang bisa Anda dinikmati.
Selain itu, tiket masuknya pun relatif murah, hanya Rp 10.000,- per orang. Plus tempat parkir yang luas, sehingga para pengunjung yang datang membawa kendaraan dapat leluasa memarkirkan kendaraannya yang dijaga ketat oleh petugas keamanan khusus kolam renang.
Sebelum masuk ke kawasan kolam renang, pengunjung dimanjakan dengan taman yang cukup besar. Kadang juga ada hiburan dari tempat ini misalnya dangdutan dan yang lainnya. Ditambah dengan kolam ikan yang digunakan untuk berperahu dan diatasnya terdapat serambi yang digunakan sebagai tempat makan. Ada juga miniatur hewan yang bisa digunakan untuk berfoto. Terutama bagi anak-anak. Di Tirta Alam terdapat empat kolam renang. Antara lain kolam renang untuk balita, anak TK/SD, umum/dewasa dan khusus wanita. Kolam renang untuk balita tingginya hanya sekitar 20 cm. Kalau ada paket rombongan dari TK atau PAUD, kolam ini biasa digunakan untuk lomba menangkap ikan. Sedangkan kolam renang khusus wanita biasanya ramai dikunjungi oleh para muslimah dari pesantren. Begitulah tasik malaya yang terkenal akan kota santrinya sampai-sampai tempat wisatapun menghargai budaya di tasik yang budaya santri sehingga membentuk tempat yang khusus untuk muslimah.
Di kolam renang untuk anak, terdapat mini waterboom. Di kolam renang untuk anak ini, biasanya paling penuh pengunjung. Tidak hanya anak-anak saja, remaja bahkan ibu-ibu juga suka bermain seluncur air di kolam ini. Selain berenang, tambah dia, pengunjung bisa menikmati wahana out bound seperti flying fox, spider web, dan perahu. Untuk semua wahana out bound, keamanan dan keselamatan pasti terjaga karena di sini ada tim khusus yang membimbing dan tentunya sudah berpengalaman. Semua bisa terjamin karena segalanya sudah dipersiapkan sesuai dengan standarnya masing.
Selain tempat wisatanya tasik juga memiliki alam yang masih terbilang alami misalnya persawahan warga yang masih banyak terdapat dimana-mana di tasik ini, lalu ada juga kolam ikan atau empang milik warga yang banyak memelihara ikan bawal dan mujair, ouh ia aku juga sempat membongkar kolam untuk manangkap ikan bawal, selama dua jam aku berusaha menangkap ikan bersama beberapa orang lainnya, kami mendapatkan kira-kira lima ikan lebih yang kemudian kami bakar untuk dimakan bersama-sama ini hal menyenangkan menurut aku karena selama ini aku belum pernah membongkar kolam ikan seperti saat itu. Selain membongkar kolam aku juga sempat ikut kerja bakti bersama warga sekitar membereskan lingkungan dari rerumputan liar yang banyak tumbuh di pemukiman warga, membersihkan got-got dari sampah, dan aku juga sempat membangun sebuah rumah berlantai dua secara bergotong royong memindahkan semen dan pasir, membuat cor-coran bangunan, dan membuat kerangka besi untuk bangunan juga sempat aku lakukan hal yang jarang bisa temukan dikota-kota itulah yang menyenangkan hidup didesa gotong royong masih terasa.
Aku juga sempat bermain sepak bola di salah satu lapangan yang terdapat diatas bukit di daerah manonjaya, jarak dari cibeureum ke manonjaya mesti menempuh jarak yang cukup jauh entah berapa kilo melalu jalan yang sepi dengan kecepatan 90 km/jam saja kita harus menghabiskan waktu sekitar 30 menit kurang lebih. Ada hal yang menarik dari manonjaya yaitu masjid agung manonjaya-nya karena dari masjid agung manonjaya inilah berawal kota tasikmalaya menurut cerita begitulah. Masjid agung manonjaya merupakan salah satu masjid tertua di Kab. Tasikmalaya yang didirikan tahun 1837.
Masjid Agung Manonjaya dibangun pada tahun 1837 M. Namun, ada pula yang menyebutkan, masjid ini dibangun pada tahun 1832 M. Terlepas dari kedua data tersebut, yang pasti, masjid itu sudah berdiri lebih dari 170 tahun. Masjid kebanggaan warga Tasikmalaya, Jawa Barat, ini terletak di Dusun Kaum Tengah, Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Tasikmalaya. Selain karena usianya yang panjang, masjid ini juga memiliki ciri khas tersendiri dari segi arsitekturnya.
Dengan usianya yang mendekati dua abad itu, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Masjid Manonjaya yang memiliki luas sekitar 1.250 meter persegi ini menjadi kawasan cagar budaya (purbakala) yang wajib dilindungi dan dilestarikan. Ketetapan pemerintah itu dikeluarkan oleh Badan Arkeologi RI yang merujuk UU Kepurbakalaan pada 1 September 1975 bersama dengan Masjid Agung Sumedang.
Keputusan ini diperkuat lagi melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 5 Tahun 1992 yang menyatakan bahwa Masjid Agung Manonjaya sebagai bangunan cagar budaya yang harus terus dilestarikan.
Sekitar 51 tiang masjid dari total 61 tiang yang ada dengan diameter antara 50-80 sentimeter (cm) yang terletak di beranda masjid. Tepat di depan beranda itu juga bisa menikmati keindahan dan kekokohan dua buah menara yang pada masa lalu biasa digunakan muazin untuk mengumandangkan azan ke seluruh pelosok kota. Kedua menara itu persis mengapit pintu gerbang utama yang menghadap langsung ke alun-alun Manonjaya.
Dari segi arsitekturnya, Masjid Agung Manonjaya ini begitu kental dengan nuansa neoclassic, seperti kekhasan bangunan di Eropa. Pada beberapa bangunan tertentu, tampak sentuhan art deco yang menjadi ciri arsitektur bangunan di negeri Belanda.
Secara umum, arsitektur Masjid Agung Manonjaya ini memadukan desain Eropa dengan aristektur tradisional Sunda dan Jawa.Nuansa tradisional itu sangat terasa dengan bentuk dari elemen bangunan, seperti ruang shalat untuk wanita, serambi (pendopo) di sebelah timur, dan mustaka (memolo) yang konon merupakan peninggalan dari Syekh Abdul Muhyi, ulama asal Pamijahan, Tasikmalaya Selatan.
Beberapa unsur bangunan yang sangat khas dan melambangkan percampuran unsur tradisional dengan Eropa klasik itu adalah atap tumpang tiga, serambi (pendopo), dan struktur saka guru yang terdapat di tengah-tengah ruang shalat.
Kekhasan lainnya dari masjid ini adalah keberadaan tiang saka guru yang berjumlah 10 buah. Konstruksi tiang-tiang saka guru tampak berbeda dibandingkan konstruksi serupa yang lazim ada di bangunan masjid-masjid masa lalu dan masa kini. Bila Masjid Agung Demak menggunakan tiang saka guru yang terbuat dari kayu, sebaliknya tiang saka guru Masjid Manonjaya ini menggunakan material pasangan batu bata. Masing-masing tiang saka guru berbentuk persegi delapan dengan diameter 80 cm, ujar Didi Iskandar, ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Manonjaya.
Seperti umumnya masjid-masjid yang dibangun di masa lalu, Masjid Agung Manonjaya ini juga menggunakan bahan-bahan yang terbuat dari kayu jati, kapur, dan tanah liat. Ketiga material itu digunakan sebagai bahan struktur rangka dan campuran tembok masjid. Tapi sayang beberapa saat yang lalu saat terjadi gempa banyak tiang masjid ini yang roboh, begitulah masjid cerita tentang masjid agung manonjaya.
Ya itulah perjalananku selama seminggu ditasik diwaktu luang aku habiskan untuk pergi berjalan menuju tempat-tempat yang bisa menenangkan diri, dengan pergi kesana aku bisa segar kembali dan bisa berpikir lebih baik lagi. Mungkin masih banyak lagi tempat-tempat yang bisa kita kunjungi ditasik hanya saja aku tak bisa mencapai. Gunung galunggung saja aku belum bisa mencapainya mungkin dilain waktu aku bisa kesana.

Rabu, 14 Maret 2012

TENTANG CINTA

Terlalu banyak orang mengatakan jika seorang laki-laki mengatakan kata-kata romantis sebagai seorang lelaki yang berlebihan. Tapi disaat diri mereka mendapati dirinya sedang jatuh cinta maka dia melakukan banyak hal yang telah dia tentang, begitu pula dikala dia patah hati dia akan menelan semua ludah yang telah dia buang. Seringkali kita ucapkan " kaya perempuan cuma dia saja?" tapi disaat perempuan yang kita cinta pergi meninggalkan kita baru kita sadari jika rasa-rasanya perempuan memang hanya dia seorang. Tentang cinta, entah berapa banyak kata lagi yang akan tercipta untuk mengungkapkannya,

Selasa, 13 Maret 2012

BUKAN PILIHAN

BUKAN PILIHAN

Menjadi yang tak terpilih tak berarti tak ada lagi waktu untuk menjadi yang terpilih, masih banyak waktu untuk mengubahnya. Di dalam hati kadang ada keyakinan jika kita akan menjadi yang terpilih, setelah dapati hasil bukan kita rasanya sedikit kecewa dengan berjuta sakit. Bangkit dari semua rasa itu akan membuktikan kita sebagai seorang lelaki.




Rabu, 08 Februari 2012

SAKIT HATI


LUKA

Cinta’, maka banyak arti sampai kapanpun tidak akan pernah usai kita rangkai untuk menerjemahkannya. Dan aku masih terlalu merah untuk membahasnya tapi aku juga pernah mencicipi apa itu cinta? Bagi aku dan beberapa kawan yang duduk seperjalanan denganku cinta itu yang bernama “busuk” karena kami adalah yang terluka. Busuk mungkin karena mereka mati meninggalkan kita atau busuk karena mereka campakkan kita bagai sampah saat ada pilihan terbaik untuknya.
Aku sama dengan ABG lainnya terpaku pada cinta yang hanya berarti mencintai lawan jenis, bukan cinta yang universal mencakup segalanya. Pertama memandangnya aku katakan kugenggam surga takkan pernah kulepaskan, aku berjalan pada waktu dimana tidak ada lagi mahkluk lain melangkah bersama.
Menghampirinya menimbulkan gempa yang mencapai 10 skala richter dipusat hatiku, jika tidak aku ungkapkan akan menyebabkan gemuruh katrina dijiwaku. Aku katakan pada bidadari yang tadi malam jatuh dihadapanku “salsa, aku begitu mencintaimu. Maukah kamu menjadi permaisuri yang duduk disinggasana bersamaku?” hanya sebuah anggukan, anggukan itu berhasil mengalirkan sungai susu dari firdaus kehalaman rumahku.
journey in love-kupun dimulai, lembaran pertama dari cerita cintaku begitu manis, semanis wajah gadisku, salsa humaira. Kencan pertama tubuhku masih bergetar tapi dia bisa melemaskan setiap ketegangan suasana disebabkan gemuruh-gemuruh tak menentu karena aliran darahku terganggu oleh virus cinta. Dia menggenggam tanganku erat tak ingin dilepaskan, tersenyum manja yang membuat aku terus memeluknya erat takkan pernah kubiarkan dia terbang bersama merpati lain. Semakin waktu berlalu semakin kami menjadi dan menjadi lagi. Ingin tidur aku ingat kecupan hangat darinya, yang membuat aku ingin dan ingin lagi, terus bersamanya.
Sebelumnya aku tak pernah percaya dengan kata-kata kawan yang duduk bersamaku jika cinta itu ‘busuk’, karena saat itu salsa humaira-ku membangunkan surga dunia untukku. Tapi saat salsa humaira menggeser surga itu menjadi neraka baru aku tahu cinta itu benar ‘busuk’. Dengan dua mata yang aku punya kulihat dia dengan anjing yang lain, duduk berdua, bercumbu mesra, merangkai asmara, semua yang dia hadiahkan padaku dia berikan juga pada anjing itu. Ternyata tidak cukup hanya aku yang menjadi penjaganya.
“brengsek” kupukul dengan bara-hati herder penjaganya itu. Tapi salsa humaira dia menatapku dengan tsunami amarahnya.
“sayang kenapa kamu malah marah padaku”
“ouh iya sayang’ kayaknya kita udah gak cocok lagi” dengan sinis dia katakan seperti itu dan berlalu. Aku berpura tegar bagai ksatria, tapi dibagian terdalam aku menangis semenangisnya. Setelah hari itu aku masih menatap awan yang sama dengan hari-hari yang sama, aku masih melewati jalan yang sama, tapi rasaku tak lagi sama.

Selasa, 06 Desember 2011

“Perjalanan itu Berakhir (guntung)”


“Perjalanan itu Berakhir (guntung)”


“Bulan ramadhan kali ini kamu pulang ya?” aku hanya bisa melongok tak percaya bila saat seperti ini bisa datang pada diriku.
“pulang????” Abangku menganggukkan kepalanya. Mendengar tawaran tadi setiap hari aku selalu berkhayal tentang pulang kampung pertama kali, ini adalah keajaiban untuk diri ini bagaimana tidak? Mungkin ini menjadi hal biasa saja untuk orang lain tapi buat aku ini adalah hal sangat berharga dan tidak akan pernah terlupakan sampai kapanpun. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah lupa. Bagaimana aku bisa melupakannya sudah 12 tahun aku tak mengenal kampungku, aku tak mengenal ayahku, aku tak mengenal keluargaku, aku tak mengenal siapapun yang aku tahu hanya namaku dan tempat aku lahir hanya itu. Selama 12 tahun aku hanya 3 kali berhubungan telpon dengan ibuku dan kali ini aku akan pergi berjumpa dengan semua yang tak pernah aku kenal itu, semuanya.
Baru dua tahun aku bisa berhubungan dengan abang kandungku, mendapatkan tawaran pulang adalah mimpi yang menjadi nyata, selama ini aku tinggal dengan orang tua angkat dan beberapa tahun ini aku tinggal di sebuah pondok. Akhirnya tahun ke-12 aku bisa juga kembali kekampung halamanku. Semua keperluan sudah aku bereskan dari tiket pesawat dua minggu sebelum berangkat sudah aku urus, pakaian yang akan aku bawa pulang ku rapikan tiga hari sebelum berangkat, semua aku siapkan secara maksimal. Selama beberapa hari sebelum keberangkatan aku selalu mengkhayalkan kampung kelahiranku dulu, aku hanya sempat menikmatinya sampai umur 5 tahun saja selebihnya sampai umur 18 tahun aku hidup dikampung orang.
Akhirnya tanggal 15 ramadhan datang, inilah saatnya aku berangkat, semuanya sudah siap barang, uang dan segala keperluan sudah siap, saatnya berangkat. Dari UKI aku naik mobil yang menuju bandara soekarno-hatta, sialnya dalam perjalanan aku tak mengatakan jika aku berangkat dari terminal IB, mobil yang ku tumpangi sudah sampai di terminal II. Untung sopirnya baik hati dia rela memutar balik hanya untuk mengantarkan aku, ini pengalaman pertama untukku naik pesawat prosedurnyapun aku tak mengerti yang jelas aku ikuti saja semua yang dikatakan seorang teman yang lebih berpengalaman, katanya sejam sebelum keberangkatan aku harus sudah tiba dan chek-in, aku sampai 1 jam lebih cepat. Sambil bertanya-tanya akhirnya huhhhh!! Aku lega juga semuanya berjalan dengan lancar, saat pesawat mulai terbang sungguh aku belum percaya aku akan berjumpa dengan keluargaku, aku tidak percaya aku akhirnya bisa pulang juga.
Perjalanan pulang menuju Riau (kampungku), aku sampai di bandara Hang Nadim di Batam disini aku punya seorang sahabat yang dulu pernah tinggal bersama di Jakarta, selama beberapa hari aku putuskan untuk berlibur di Batam. Ku injakan kaki, aku masih belum percaya jika aku ada di Batam, berpikir untuk pulang-pun aku tak pernah walau ingin.
“halo dik, gua udah sampai di Hang Nadim!”
“ok-ok awak juga sudah di Hang Nadim.” Aku mencari dimana temanku itu dia bilang dia ada di dekat pintu keluar aku mencarinya.
“kiting, kiting balik kampung juga kau akhirnya hahahaha” canda andika kawanku, dia datang berdua dengan rayen yang juga temanku saat masih dijakarta.
“ayolah kita langsung saja kerumahku, awak pasti lelah habis perjalanan jauh” setelah mengobrol banyak Andika membawa aku ke rumahnya. Dia tinggal di sebuah perumahan di Simpang Barelang bersama pamannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00,
“ting, mau ke barelang ga?” aku menganggukan kepala siapa yang tak mau ke Barelang jembatan yang menghubungkan pulau-pulau terdekat di Batam. Barelang merupakan jembatan yang menghubungkan beberapa pulau yang berawal dari Batam dengan pulau disekitarnya. Nama Barelang didapat dari singkatan dari ketiga pulau yang saling terhubung yaitu BA-tam, RE-mpang, ga-LANG. Namun pulau-pulau yang terhubung tak hanya ketiga pulau ini saja, diantaranya dari pulau Batam-Tonton-Nipah- Rempang- Galang- Galang Baru. Ada satu hal lagi yang menarik dari jembatan ini adalah walaupun namanya Barelang namun setiap jembatan yang terhubung kesetiap pulau mempunyai nama masing-masing, dan ini dia keenam nama jembatan itu jembatan pertama bernama tengku Fisabillilah, yang kedua Nara Singa, Ketiga Raja Ali Haji, kemudian Sultan Zainal Abidin, selanjutnyaTuanku Tambusar, dan yang terakhir Raja Kecik. Bukan hanya sejarah Barelang yang menarik, Suasana laut dengan angin yang sepoi-sepoi tak kalah menarik coba anda rasakan dari jembatan ini disore hari. Jika sore telah datang maka jembatan ini akan menjadi tempat berkumpul orang-orang disekitar Barelang, Mereka datang kemari hanya sekedar duduk berdua dengan kekasihnya atau menghabiskan senja dengan menatap pemandangan indah dari jembatan ini, bagi para turis ini juga tempat wisata menarik untuk mereka. Karena bila ke Batam tak ke Barelang sama saja belum berkunjung ke Batam begitulah masyarakat sekitar katakan.
Aku terkagum-kagum dengan jembatan ini sayangnya aku tak bisa menyusuri keenam jembatan yang ada, sekarang aku hanya duduk di atas jembatan pertama jembatan Barelang, menunggu berbuka adalah hal yang menyenangkan. Dari jembatan ini aku bisa melihat laut dengan pulau-pulaunya, selama ini aku hanya bisa menikmati keindahan-keindahan lewat membaca dan foto-foto sekarang aku benar-benar ada di tempat yang indah itu. Sepuluh menit lagi sudah akan tiba waktunya berbuka, kami mencari tempat makan. Tak sulit mencari tempat makan di Batam karena di pinggir-pinggir jalan banyak tersedia berbagai makanan samahalnya dengan di Jakarta, disini banyak terdapat penjual sate, pecel lele, masakan padang, dan macam-macam rumah makan. Kami berhenti di sebuah warung yang menyediakan sea food, aku memesan udang goreng dengan minumannya es jeruk dan Andika juga sama hanya saja dia memesan es teh obeng.
“teh obeng ini khasnya orang batam katanya” aku tidak bertanya apa istimewanya yang aku lihat hanya teh manis dengan es batu, ouh mungkin es batunya itu yang berbeda kalau kita menggunakan es batu biasa kalau teh obeng dia menggunakan es batu yang bulat memanjang lalu ditengahnya terdapat bolongan.
Setelah hari pertama aku mengunjungi barelang, Andika selanjutnya mengajakku mengunjungi Coastarina. Coastarina adalah wisata di Pesisir pantai Batam yang diresmikan tahun 2009, di coastarina kita bisa melakukan berbagai olahraga air misalnya berenang, naik banana boat, selain olahraga air kita juga bisa bermain bianglala yang letaknya diatas air, saat berada diatasnya kita bisa menatap tulisan COASTARINA terpampang besar sehingga dari jarak jauhpun kita bisa melihat tulisan tersebut. Dari coastarina kita juga bisa menikmati matahari tenggelam sangat menyenangkan, selain itu untuk masalah makanan disini kita tak perlu takut karena dipinggir pantai sudah ada tempat-tempat yang menyajikan berbagai makanan laut. Selain itu kita juga bisa melihat banyak patung binatang dan juga huruf-huruf yang dibuat dengan ukuran yang sangat besar dan diletakan ditempat-tempat berbeda diwilayah wisata coastarina. Coastarina memiliki panggung besar dan dipanggung besar coastarina inilah yang menjadi andalan untuk berbagai macam acara misalnya saja acara musik, acara-acara dari coastarina sendiri dan lainnya.
Tidak lupa juga Andika mengajak aku untuk shalat di masjid raya Batam, dan malam harinya kami bermain futsal di sebuah lapangan sintetis di daerah Batam centre. Setelah tiga hari berada di batam aku sudah ditunggu keluarga dikampung.
Pagi yang cerah dan hari ini aku harus melanjutkan perjalanan ke kampung halamanku, setelah kemarin pengamalaman pertama naik pesawat kali ini aku juga akan merasakan untuk pertama kalinya naik kapal marina, aku sampai satu jam sebelum keberangkatan segera aku memesan tiket yang mengarah ke guntung. Aku bisa juga mampir di Ferry International Batam Centre, pelabuhan yang terhubung langsung dengan Mega Mall melalui jembatan penyeberangan dari pelabuhan ke dalam Mall, pelabuhan yang hanya melayanai perjalanan international ke Malaysia dan Singapura.
Setelah waktu keberangkatan tiba aku kembali ke pelabuhan sekupang, dari sini aku akan menumpangi marina. Kata teman disebelahku biasanya kalau hari-hari menuju lebaran orang-orang penuh di pelabuhan ini tapi kali ini untung saja tak terlalu ramai masih ada kursi yang kosong. Selama perjalanan aku sudah melewati beberapa pelabuhan aku tidak tahu apa saja nama pelabuhan yang kutahu hanya pelabuhan pulau burung dan maro atau moro tak tahulah apa namanya?? Perjalanan selama dua jam sudah aku tempuh tiba juga. Aku hanya bermodalkan nomor telpon saja pulang ke kampung. Setelah sampai di pelabuhan HK guntung, aku coba untuk menelpon abang pertamaku, aku tidak mengenal wajahnya. Jadi hanya bermodal HP saja. Ada seorang pria yang terus memperhatikanku, kuangkat kedua tas besarku.
Tiba-tiba laki-laki itu memelukku” apa kabarnya de, sekarang udah besar ya?” ternyata ini abang kandungku. Aku tak bisa berkata apa-apa jujur saja aku serasa berjumpa dengan orang lain. Sampai dirumah semua keluarga sedang berkumpul, aku menghampiri ibu, lalu memeluknya, begitu juga keluarga yang lain tidak ada hal istimewa yang bisa aku katakan padahal ingin sekali mengatakan bahwa aku sangat merindukan mereka. Tapi aku terlalu canggung untuk mengatakan itu semua, lebih suka menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka daripada aku yang bercerita. Beberapa hari disini aku lebih banyak bepergian kerumah saudara-saudaraku, kata mama-ku agar aku kenal siapa saja paman-bibi-sepupu-dan keluarga-keluarga yang banyak, yang paling aku suka adalah saat menyeberang ke pelabuhan gembira sebuah daratan yang hanya berisi kebun kelapa dan berpuluh-puluh hektare kebun hanya ditempati beberapa orang saja, salah satu abangku yang tinggal disini. Baru kali ini aku bisa melihat kebun kelapa, yang seluas ini sangat luas. Bahkan kalau ingin minum air kelapa kita bisa langsung mengambilnya dari pohon.
Aku masih tidak bisa percaya padahal sekedar berpikir untuk kembali berpijak ditanah guntung adalah sebuah hal yang mustahil menjadi kenyataan. Guntung merupakan sebuah kecamatan di Kab. indra Giri Hilir yang terdiri dari mayoritas masyarakat melayu, lalu bugis, china, jawa, dan lain-lain. Biaya hidup di guntung sementara ini sangat mahal karena seluruh distribusi ke guntung melalui jalur laut yang sedikit lamban jadi pasokan barang-barang ke guntung adakala sangat minim dan membuat semua orang harus hemat. Guntung wilayah yang berada tepat dipinggir laut dengan satu pelabuhan besar yang diberi nama HK dan banyak pelabuhan kecil untuk menuju pulau-pulau sekitar, antara sambu penghasil santan kelapa dengan pabriknya yang terkenal besar karena mengekspor hasilnya hingga ke singapura. ada pulau burung, dan banyak lagi pulau sekitar. Untuk kehidupan di guntung masyarakat terkadang lebih memilih membangun rumah panggung bukan karena alasan tidak mampu membeli bahan beton namun lebih karena alasan alamnya, tanah gambut diguntung membuat masyarakat sulit untuk membangun rumah beton, karena tanah ini jika digali jarak satu meter dia akan muncul air dari galian itu dan tanah ini juga lembut jika kita letakkan beban yang berat diatasnya maka tanah ini akan jeblos ke dalam. Lalu masyarakat sekitar juga rata-rata mengandalkan air hujan untuk diminum dan mencuci sedangkan untuk mandi mereka menggunakan air perigi yaitu air tanah yang berwarna kecoklatan seperti warna air teh, air perigi ini mudah didapatkan mereka hanya tinggal menggali tanah sedalam dua meter dan air akan langsung terlihat, langsung bisa digunakan. Selain itu guntung saat ini baru memiliki satu rumah sakit yang menjadi andalan mereka dengan sebuah ambulance untuk mengangkut jenazah, untuk transportasi sementara ini masyarakat guntung menggunakan kendaraan bermotor karena mobil tidak memungkinkan untuk beroperasi diguntung alasannya adalah infrastruktur yang masih kacau.
Untuk wisata guntung memiliki tempat wisata kolam, kolam merupakan tempat wisata yang terdiri dari tujuh kobangan air yang luasnya kira-kira 15x20 meter, wisata ini akan sering dikunjungi disaat sore hari atau akhir pekan disaat mereka libur kerja atau sekolah. Yang menarik dari kolam adalah karena sebelum wisata ini bisa digunakan untuk tempat reakreasi kolam merupakan tempat hidup buaya, karena masyarakat resah dan takut akan terjadi hal-hal yang dapat menganggu kehidupan mereka akhir mereka membunuh buaya-buaya itu lalu menguburkannya didekat salah-satu kolam, dan kuburan buaya itu menjadi hal menarik untuk dikunjungi. Tapi ada sedikit masalah, untuk mencapai wisata kolam ini aku harus melalui jalan yang cukup jauh dengan keadaan jalan yang tidak layak untuk dilalui. Misalnya saja jalan yang bersemen hanya selebar satu meter harus dilalui dua motor yang lalu-lalang, terkadang tak semua jalan rapi ada juga jalan yang semennya sudah hancur bahkan berlubang yang ukurannya sangat besar sehingga untuk melewatinya kita harus pelan-pelan membawa kendaraan motor.

Orang guntung akan bilang "bukan orang guntung jika belum mencapai kolam" itulah yang membuat orang yang datang ke guntung menuju kolam.
Dan itulah tentang perjalanan pulang kampung pertamaku setelah 12 tahun tak pernah pulang, setelah kepulangan ini aku tak merasa berbeda lagi dari yang lainnya karena aku sudah berjumpa dengan ibu, nenek, dan semua keluarga dikampung. Tapi ada satu hal yang membuat aku merasa malu pulang ke kampung aku lupa dengan bahasa melayu, aku sudah tak bisa lagi melafalkan kata-kata dalam bahasa melayu padahal aku ingin sekali menguasainya. Setelah ini aku akan selalu merindukan rumah panggung, tanah gambut, air perigi, duduk sore hari dipinggir laut, dan semua tentang guntung.
Semua barang sudah aku kemas, juga rasa rindu yang selama ini aku pendam kini aku kemas lagi untuk aku bawa lagi ke Jakarta. Pagi ini aku harus sudah kembali ke Jakarta, sialnya hari ini, ibuku tak sempat mengucapkan kata-kata perpisahannya padaku begitu pula aku karena saat datang lalu membeli tiket marina, kapal ini langsung berangkat menuju batam. Ibu aku akan selalu merindukanmu, tapi aku tidak akan mau menunggu untuk ke-12 tahun lagi untuk berjumpa lagi dengan semuanya, mungkin tahun depan aku akan kembali!!!

                                                ************************