Rabu, 05 September 2012

RUMAH PANGGUNG (2)


Setiap hembusan angin sore itu buat gua merasa melayang walaupun dunia gua sepi banget tapi masih banyak senyuman yang gua simpan. Dari senyuman mama gua seorang yang sangat perkasa, terus senyum kakak-kakak gua yang sayang banget sama gua, senyum abang-abang gua yang tampan-tampan (haha). Ia dengan senyum mereka gua ga pernah ngerasa sepi. Kalau lagi kumpul kadang kita main bola kasti bersama sore hari didepan rumah panggung kita yang kebetulan ada tanah kosong yang lumayan luas. Gua suka menikmati sore disini, dicong-cong dikampung pedalaman gua, dari sini banyak yang gua nikmati matahari yang mulai padam, elang-elang yang mencari mangsa disore hari, burung yang bergerombol terbang menuju lautan, angin yang berhembus pelan yang akan selalu dirindukan dan bisa menerbangkan pikiran kita ke alam jauh, atau sekedar menatap ikan-ikan julung kecil berenang-renang dengan anak-anaknya diair yang pekat, dan satu lagi menikmati air pasang sambil memancing ikan. Itulah sore kami dikampung terpencil ini. Rumah kami adalah rumah panggung khas riau yang atapnya dari tumpukan daun kelapa dan dinding-dinding dari kayu-kayu yang disusun atau triplek, dan penyanggahnya kayu jati yang sangat kokoh. Didalam rumah hanya ada dua kamar yang satu untuk mama dan kakak-kakak perempuan dan yang satu lagi untuk abang-abang tapi gua lebih suka tidur dengan mama karena aku masih kecil. Gua adalah anak terakhir dari tujuh bersaudara. Tapi kami selalu menggunakan kelambu untuk tidur karena banyak sekali nyamuk kebun disini yang besar-besar dan sangat gatal jika tergigit sedikit saja. Tepat disebelah rumah gua adalah parit dan itulah sumber air kami untuk mandi dan mencuci, tapi jika untuk minum kami menggunakan air hujan karena air parit tidak mungkin digunakan karena airnya berwarna agak kecoklatan seperti air teh yang merupakan air tanah, jadi kami tidak mungkin menggunakan untuk minum. Jadi jika hidup di kampung ini maka kita harus berhemat air hujan karena mendpapatkannya sangat harus menunggu hujan turun jika saja hujan tidak turun semuanya akan dibingungkan dengan keadaan ini. Dibelakang rumah gua ada kuburan, entah kuburan siapa? dan disisi lain rumah gua ada hutan pandan yang sangat luas, pandan-pandan raksasa itu digunakan untuk membuat tikar dengan cara dianyam, gua ga terlalu tau prosesnya. Tapi mungkin sih prosesnya kayak gini, pandan diambil terus dijemur lalu di sayat sesuai ukuran yang diperlukan lalu direndam didalam air pewarna setelah itu barulah dianyam yang tidak hanya menjadi tikar saja tapi bisa juga menjadi topi, tempat menyimpan barang dan lain-lainnya.
Hidup gua akan terlihat kasian banget buat orang-orang kota, soalnya pikir aja sepeda aja ga ada dikampung gua apalagi motor sama mobil dan segala kendaraan modern lainnya. Satu-satunya kendaraan yang ada cuma sampan, cuma sampan, sampan aja ga ada yang lain. Gua enggak pernah punya tv buat nonton, tapi gua masih bisa menikmati tv itupun harus berjuang berkilo-kilo kerumah orang lain buat bisa menikmati tv. Kadang gua punya impian ingin punya tv sendiri, atau pergi ke kota menjadi orang-orang kota lainnya. Tapi gua enggak pernah menyesali kalo gua terlahir sebagai anak desa pedalaman yang ga punya apa-apa. Penerang digelap malam dirumah gua itu cuma pelita, kaleng susu yang dikasi kain bekas yang jadi sumbu terus dikasih minyak tanah biar bisa nyala. Tapi itu semua ga pernah ngalangin kakak-kakak gua belajar, terus mengerjakan tugas sekolah mereka. Gua selalu bangga punya mereka karena mereka adalah kakak-kakak yang cerdas membuat bangga keluarga.
Didalam rumah ini adalah surga buat gua, selama gua akan selalu mengenang rumah ini dengan semua kenikmatannya, mama gua selalu menyediakan makanan yang membuat gua ga pernah bosan untuk makan dan makan. Selalu banyak tawa didalam rumah ini walau tidak semua kenikmatan kita punya. Dirumah panggung ini masa kecil gua yang singkat terukir dengan indahnya. Gua menikmati kasih sayang dari setiap orang yang gua sayang juga. Dibawah rumah juga kami memelihara ayam yang telur-telurnya bisa kami nikmati, dagingnya bisa kami makan jika sedang ingin, kokokannya membangunkan kami setiap pagi hari. Tujuan rumah panggung kami ini untuk menghindari hewan-hewan buas yang banyak berkeliaran dimalam hari. Jika malam tiba kami sering melihat musang, tak jarang banyak babi hutan berkeliaran, jadi rumah kami seperti ini ada alasannya bukan asal dibuat saja. Tapi itu alasan dari gua sendiri ga tau dari yang lain bisa ditanyakan sendirilah. Menatap bulan dari jendela rumah kami disini begitu menyenangkan, melihat burung hantu yang sedang terbang kesana kemari mencari mangsanya juga menjadi sesuatu berharga buat gua. Pelita yang menerangi malam-malam gua juga akan jadi hal berharga karena setelah ini gua gak akan pernah menemui dia lagi.
Didalam rumah ini juga ada satu abang gua yang suka ngotak-ngatik barang elektronik, sekarang dia cuma bisa ngotak-ngatik radio bekas. Jika membutuhkan listrik dia bisa dapati dari aki yang harus dia isi selalu jika sudah habis jika terus ingin melanjutkan hobbinya. Nantinya kalian semua bakalan tahu dia akan menjadi apa nantinya? tunggu aja nanti!
....BERSAMBUNG....

FILM SUAMIKU MUSUH ANAK-ANAKKU


"hidup dipenjara tak pernah sekalipun terlintas dibenakku, ini semua kulakukan karena aku harus membela harga diri, dan harga diri anak-anakku, aku telah hilang segalanya. Hidupku benar-benar teraniaya" kata penyesalan.
-ketika masalah hidup itu datang dan seakan menantang, perempuan adalah perempuan, kami tidak punya keberanian untuk melawan, tapi kami tak punya keikhlasan untuk menjalaninya- begitulah kata seorang perempuan.
Telah memilih laki-laki yang salah untuk menjadi pengganti suaminya yang sudah meninggal itu adalah awal kesalah hayati, karena pilihan yang salah itulah yang menghancurkan hidupnya untuk selama-lamanya.
"dia mungkin suami ibuku, tapi bukan ayah bagiku, dia musuhku" begitulah yang mia katakan, anak pertama hayati. Karena suami ibunya itu dia harus menjalani hidup penuh noda dengan tersiksa. Ayah tirinya itu begitu tega menjualnya kepada para laki-laki hidung belang yang mencari kenikmatan sesaat.
Sampai akhirnya Mia hamil, hayati begitu sakit mengetahui keadaan itu. Hayati marah besar pada mia yang sebenarnya hamil karena dijual oleh ayah tirinya. Mia belum mau mengungkapkannya karena tidak ingin menyakiti hati ibunya lebih dalam lagi. Hayati memaksa mia untuk mengatakan siapa yang telah menghamili dia, jika tidak dia akan menusukkan gunting pada tubuhnya
"mia ga tau siapa bu? karena sudah banyak lelaki yang menjamah tubuh mia bu. Bapak yang telah menjual mia" gunting ditangan hayati terjatuh mendengarnya. Sebegitu tega suami yang dia cinta melakukan hal ini, benar-benar binatang pikirnya. Mereka menangis semampu mereka menguras semua air mata penyesalan yang menyakitkan. "aku telah melakukan kesalahan besar telah mencintai seekor binatang" begitulah isi hati hayati.
Hayati sengaja menunggu binatang itu pulang dari kegiatan malamnya yang berfoya dengan waktu dan uang, dia ingin meluapkan amarahnya. Akhirnya yang ditunggu tiba juga, sambil mendorong tubuh binatang itu hayati memaki-maki tapi binatang itu selalu punya jawaban "anak kamu sendiri yang meminta pekerjaan pada saya" Mia yang mendengar pertengkaran itu merasa sangat tak berarti dan tak punya pilihan, tapi ada satu pilihan lagi tapi ini adalah salah, dia memotong nadinya dengan silet mungkin ini yang terbaik pikirnya dari semua pilihan yang tak memihak.
"ibu andai saja dia bukan suamimu, musuh haruslah dibunuh" itulah yang mia katakan andai bisa.
Binatang itu kembali berulah dia kalah dalam berjudi, dalam kebingungannya untuk membayar hutangnya dia mendapatkan kemudahan. Jika dia bisa memberikan anaknya clara pada andi si hidung belang biadab maka semua hutangnya lunas bahkan masih ada lebih untuk dirinya. Itu adalah ide brilian pikir binatang itu.
Dalam semua kegaduhan hidupnya hayati masih tersenyum saat menggendong cucu tak berbapaknya, masih sempat ia puji kecantikan bayi mungil itu.
"dia bukan anakku, dia dititipkan dirahimku" begitulah balasan mia yang membuat hayati kembali mendapati hujan luka. Mendengar itu Hayati mulai Mempertanyakan tuhan.
-Tuhan pantaskah ini kami dapatkan? kebahagiaan ini begitu hampa-
Binatang itu terus mencoba untuk membawa clara pada pria hidung belang, sayangnya clara bukanlah mia. Clara bukanlah penakut dia adalah jiwa pemberani yang sanggup menentang binatang itu, tapi kenyataan adalah pahit binatang itu murka dengan amukannya hingga membuat clara yang ditinggal seorang diri dirumah meregang nyawa ditangan binatang itu. Ibunya yang menyadari clara seorang diri dirumah segera teringat dan terburu-buru untuk pulang mencemskan keselamatan anaknya dari binatang itu. Setelah tiba dan mencari clara dirumah, ditengah terengah nafas cemasnya yang dia dapatkan adalah yang lebih menyakitkan clara sudah tak bernyawa. Setan mana yang tidak akan segera merasuk pada tubuh yang telah tertanam benih amarah yang kini tumbuh besar dan menjulang, semakin banyak setan menggelayut dan ini adalah pilihan yang tepat. Dengan sebilah pisau hayati melangkah seperti para pejuang yang ingin memerdekakan setiap siksaan batin yang telah dia dapat. Hayati melangkah mencari tempat binatang itu bergumul dengan lumpur kenikmatannya.
Hayati temukan wajah binatang hina itu, tanpa pikir panjang dengan pisau dia tancapkan semua amarah, kesal, benci, dendam, keluh, kesah, dan segalanya pada tubuh binatang itu. Inilah harga yang pantas untuk melunasi hutang yang begitu besar yang tidak akan pernah terbayar dengan apapun.
Penjara adalah bukti rasa cinta seorang hayati pada anak-anaknya. Demi mereka dia rela bertaruh nyawa, seperti saat dia melahirkan mereka. Seorang ibu tidak akan menghilangkan rasa cintanya untuk anak-anaknya. Itu adalah bakti dan bukti seorang perempuan, meski apa yang perempuan dapatkan tak pernah sebanding dengan apa yang perempuan dapatkan.

Pesan:

Semua keputusan yang telah kita ambil dalam hidup ini adalah perjudian yang tak satupun tanpa resiko. Untuk keluarga carilah keputusan terbaik, carilah calon ayah yang pantas menjadi ayah untuk anak-anak. Dan segala hal dalam keluarga jangan ada satupun masalah yang terlewatkan segalanya harus dibicarakan. Bukan memperbaiki tapi mencegah segala yang tidak diinginkan adalah obat terbaik untuk setiap penyakit apapun itu bentuknya.

KISAH BERSAMAMU


KISAH BERSAMA-MU (MATEMATIKA)_putra afriansyah

Matematika, aku sangat mencintai pelajaran ini. Semua teman sekelas dan guru-guru di SD-tempat sekolahku tahu jika aku adalah anak yang cerdas dipelajaran ini. Saat kelas 3 SD aku sudah bisa menjawab dengan pasti perkalian satu sampai sepuluh, kelas 4 SD aku sudah bisa menghafal rumus bangun ruang, kelas 5 aku benar-benar menguasai semua hal yang menyangkut matematika SD. Bahkan aku sempat dijadikan asisten guru saat pulang sekolah untuk mengajarkan perkalian kepada teman-teman yang belum lancar dalam pelajaran ini. Aku begitu bangga dengan pencapaian ini, sebenarnya aku bukan termasuk anak yang rajin, guru-guru lebih mengenal aku dengan anak yang jail dan pemalas tapi beruntung aku mendapatkan kecerdasan jadi mereka tidak terlalu fokus pada kenakalanku.
Itu dulu saat aku SD bisa menjadi bintang dikelas, tapi ketika pertama kali memegang buku matematika SMP. Rasa pesimis hadir, entah matematika apa ini, tak ada angka sama sekali yang ada hanya sekumpulan huruf yang harus dijadikan apa? Pertama kali belajar aku tak yakin aku bisa, ternyata aku bisa. Rasa cinta pada matematika kembali bersemi, guru menerangkan kemudian memberikan soal aku langsung bisa menjawab dengan benar. Aku suka berlama-lama mempelajari al-jabar, aku senang bermain-main dengan persamaan linier, dan rumus-rumus lainnya. Sampai hari dimana aku begitu memusuhi matematika karena dihari itu guru yang mengajari aku dengan gaya dan ciri yang orang lain tidak memiliki, menerangkan dengan santai mudah dicerna, dengan candaan tapi menghasilkan makna, dengan rumus singkat tapi jadikan kami berpredikat. Setelah dia pergi aku lebih suka tidur saat ada jam pelajaran matematika, aku lebih suka bercanda dengan teman-teman memaksimalkan kejahilanku dikelas daripada belajar, aku menjadi 180 derajat yang bukan diriku.
Aku lulus SMP dengan nilai matematika secukupnya sebagai syarat kelulusan saja. Permusuhan aku dengan matematika semakin menjadi saat beranjak ke SMA. Yang pertama membuat aku benci tingkah gurunya yang “tong kosong nyaring bunyinya”, menjelaskan rumus panjang lebar tak dimengerti hasilnya, salah sedikit marah membabibuta. Daripada terus mendengarkan rumus-rumus yang tak penting aku mencari teman yang se-faham dengan aku,
“woii, mending kita nongkrong dikantin biasanya banyak cewe-cewe nongkrong juga! Ayolah dari pada dengerin dia bisa-bisa pecah kepala kita” ajakku pada mereka. Kami tinggalkan ruangan kelas lalu nongkrong dikantin, hilangkan penat dengan menggoda gadis-gadis cantik lebih baik daripada bergurau dengan rumus yang membotakkan kepala. Seringkali aku dan kawan-kawan mendapatkan peringatan tapi kami sama sekali tak menggubrisnya. Sampai mereka mengancam akan menskorsing kami tapi tetap saja tidak menghasilkan apapun, rasa dalam hati kami sepertinya ‘kami akan berjuang memerangi matematika dengan gurunya sampai titik darah penghabisan’.
Ternyata tak selamanya aku membenci matematika, ketika datang seorang guru yang kembali membangkitkan kecintaanku pada matematika. Rasanya aku kembali bernostalgia pada matematika yang kucinta dulu. Memang benar tak selamanya kawan menjadi kawan, dan tak selamanya musuh menjadi musuh. Ada saatnya kawan menjadi lawan dan musuh menjadi teman. Guru muda, cantik, menjelaskan dengan singkat tapi masuk ke-otak, berbicara lembut tapi mengeraskan semangat kami untuk belajar, membuktikan jika matematika bukanlah musuh tapi kawan. Aku jatuh cinta lagi....
Namaku Putra Afriansyah lahir di Tembilahan, Riau 12 juli 1992. Aku memiliki hobi bermain Futsal (alhamdulillah udah ada hasilnya sedikit), membaca buku berlama-lama juga merupakan hobiku dan berpetualang (semoga bisa keliling Indonesia). Akun Fb aku Van Poetra Nyamuk dan Alamat e-mail putra.afriansyah@gmail.com, Motto : hidupku adalah simpan semua rasa dengan tulisan.

Rabu, 27 Juni 2012

Ridho-mu bu!


                                                                                                            Jakarta, 12 juli 2011


Untuk Ibu,

Assalamualaikum, bu. Apa kabar bu? Baik-baik sajakan, semoga Allah selalu menjaga ibu. Ibu anakmu disini baik-baik saja jangan kau khawatirkan. Bu, Saat membaca surat ini mungkin ibu akan meneteskan air mata sama seperti aku saat menuliskan surat ini, dengan tinta dan airmata kerinduan aku tuliskan surat ini untuk ibu di seberang jauh. Aku mohon maaf atas dosa-dosaku.
Ibu, cintaku padamu tak cukup aku ungkapkan dengan tinta dan kata-kata karena ibu telah memberikan hidup pada hidupku. Membalas ibu dengan apapun bukanlah berarti namun hanya hembusan setitik usaha agar ibu bahagia. Bu, aku sedang menuntut ilmu disini, aku sedang berjalan dijalan Allah, mencari dan mencari ilmu-ilmu yang dia turunkan didunia ini. Alhamdulillah, aku sudah bisa membaca dan menulis Al-qur’an. Insya allah aku sudah bisa menjalankan shalat lima waktu dengan kesadaran sendiri bu, aku tak lagi seperti dulu untuk shalat aku seperti keledai yang terus-terus ibu paksa untuk melaksanakannya. Aku sadar akan kebutuhan shalat bagi kita, bu! Karena berada jauh dari ibu, karena rasa rindu juga yang menyadarkan aku bahwa setiap amarah ibu dulu itu selalu mengartikan sebuah makna untuk hidupku. Dalam belajarku seringkali tersisip kerinduanku padamu bu! Tapi jika aku pulang dengan tangan hampa tanpa hasil yang bisa membuatmu tersenyum apalah guna? Kuingin terus menuntut ilmu sampai aku merasa siap hadir dihadapan ibu nanti.
Ibu jika bisa aku ingin selalu berada disisimu dalam perjalananku ini, tapi banyak kemungkinan yang membuat kita tak bisa bersama. Walau jauh hati kita selalu akan bersama kapanpun dan dimanapun. Ibu disetiap tahajud-ku aku selalu berdo’a untuk kebaikan kita, untuk hidup kita, untuk mati kita semoga dapatkan surga diakhir nanti. Bu! Surat ini aku tuliskan dengan hati, dan disetiap kata yang tertulis adalah karyamu juga yang mengajarkan aku mengejanya. Ibu setiap aku terbangun dari tidur kukira ibu ada disamping-ku ternyata tak ada! Walau kadang airmata tumpah juga. Ksatria mana yang tak pernah menangis, bu! Akupun sama, bahkan jarak ini membuat aku menjadi manusia paling cengeng. Tapi beruntunglah aku didalam kecengengan-ku menghasilkan manfaat yang membuat aku tak luput untuk mengingatmu. Ouh iya, bu! Bagaimana kabar keluarga, semoga baik semua didalam lindungan Allah SWT. Sampaikan salam dariku untuk mereka semua bu. Aku merindukan mereka juga. Mohon pula do’a dari mereka agar perjalananku ini berhasil sampai ketujuan yang aku cita-citakan.
Cukup sekian bu yang bisa aku tuliskan. Ibu bukankah surga ditelapak kaki ibu, karenanya aku memohon do’a pada ibu agar aku bisa mendapatkannya. Dari seberang aku ingin menjadi manusia yang berguna, seperti disetiap do’aku pada Allah SWT. Ibu ridhokanlah anakmu ini, bukankah ridho-MU adalah ridho Allah juga, aku ucapkan maaf lagi atas dosa-dosaku yang bagai debu, ibu! Salam sayang untuk ibu tercinta.


Dari anakmu,

Putra Afriansyah














Kamis, 05 April 2012

Jalan-jalan ke TASIKMALAYA

Sejarah berdirinya Kota Tasikmalaya sebagai daerah otonomi tidak terlepas dari sejarah berdirinya kabupaten tasikmalaya sebagai daerah kabupaten induknya. Sebelumnya, kota ini merupakan ibukota dari kabupaten Tasikmalaya, kemudian meningkat statusnya menjadi kota administrasi tahun 1976, pada waktu A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya, dan kemudian menjadi pemerintahan kota yang mandiri pada masa Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya dipimpin oleh bupatinya saat itu H. Suljana W.H.
Waktu menunjukkan pukul 22.00, kami semua bersiap untuk berangkat menuju singaparna-tasikmalaya. Dalam rombongan ini kami berjumlah 8 orang, menggunakan sebuah mobil pribadi. Perjalanan dimulai! Didalam mobil banyak hal yang diperbincangkan tidak ada habisnya, habis materi pertama akan disambung lagi dengan materi kedua, habis materi kedua akan disambung lagi dengan materi ketiga, begitulah seterusnya. Karena saya paling muda didalam mobil ini lebih baik menjadi pendengar daripada menimpali pembicaraan tapi mengerti apa pembahasannya. Tapi dari banyak bahasan yang dibicarakan Cuma satu bahasan yang paling panjang tentang pernikahan karena perjalanan kami kali ini adalah untuk menghadiri sebuah pernikahan seorang sahabat di singaparna-tasikmalaya.
Perjalanan ini bukan pertamakali tapi untuk yang kesekiankalinya aku melewati jalur selatan, dalam perjalanan malam hari sang pengemudi harus benar-benar seorang yang ahli karena dijalur ini banyak sekali kelokan-kelokan yang salah sedikit saja mungkin akan terjadi kecelakaan. Aku selalu takut melewati jalan ini, setiap kelokan membuat aku berpikir banyak kecelakaan yang terjadi dijalur ini. Tapi sudahlah! Setelah sampai dibandung aku merasakan mata sudah tak sanggup lagi terbuka, aku pejamkan saja mata ini.
“berenti-berenti!” teriakan seorang kawan ini membangunkan aku. Hah! Baru sebentar rasanya mata ini terpejam.
“kenapa?” tanya pengemudi
“saya mau buang air besar udah gak tahan lagi”
“mau bongkar muatan rupanya hahaha, kita cari masjid terdekat saja” ujar sang pengemudi. Aku hanya ikut tertawa melihat wajah kawan yang ingin buang air besar. Wajahnya begitu serius tapi masih saja dijadikan bahan lelucon. Perjalanan seperti ini memang selalu menyenangkan karena candaan adalah menu utama dari mulai samapi akhir perjalanan. Kami sudah sampai di simpang lima singaparna dari sini sedikit lagi kami akan sampai dirumah sahabat yang akan melangsungkan pernikahan. Tepat pukul  03.00 kami sampai disebuah mesjid yang sangat besar. Semua rombongan keluar dari mobil, aku yang sudah tak bisa lagi menahan kantuk langsung merebahkan tubuh di beranda mesjid yang memanjang kira-kira 10 meteran.
“sholatullah,,,,,,” suara shalawat aku bangun, kulihat jam pada handphone, sudah pukul 05.20. pantas saja sudah banyak orang yang mondar-mandir tapi kenapa tak ada satupun orang yang membangunkan aku. Aku dengan segera mengambil air wudhu dan langsung melaksanakan shalat subuh seorang diri karena dalam mesjid yang sangat luas ini semua orang sudah selesai melaksanakan shalat.
Mentari mulai terbit perlahan, aku duduk bersama yang lain di beranda mesjid. Mesjid ini dikunjungi begitu banyak orang kebetulan pagi ini hari minggu, banyak gadis-gadis berkumpul duduk diberanda sambil tertawa bercerita, rata-rata menggunakan hijab walau ada yang tidak, ada juga pasangan muda-mudi yang lalulalang, pasangan suami-istri, begitu banyak manusia berkerumun ditempat ini, kebetulan diseberang mesjid ini ada taman yang cukup luas, ouh! Nama tempat ini alun-alun singaparna, terang saja banyak orang yang berkumpul disini. Mesjid ini bernama mesjid agung singaparna.
“ayo kita jalan sekarang, sudah  ditunggu” semuanya sudah menumpang mandi dimesjid agung ini, setelah semua berdandan rapi dengan batiknya, kami siap menuju tempat undangan. Tempat acara dari mesjid ini sekitar 200 meter baru kita akan sampai. Akhirnya kami sampai juga, acara sudah dimulai, susunan acara sudah dibacakan yang unik adalah pembacaan susunan acaranya dengan bahasa sunda. Kebetulan sahabat yang menikah adalah orang sunda dengan jodohnya juga orang sunda wajarlah acara yang dipakai serba sunda.
Saat paling membahagiaakan adalah saat sahabat kami yang menikah mendengarkan kata “sah” dari semua orang walaupun dia harus mengulang ijab kabul dua kali tapi akhirnya dia berhasil juga. Selamat kawan atas hari yang bahagia ini. Sampai akhirnya kami harus pamit, tidak lupa kami foto bersama sang pengantin.
Aku harus tinggal seorang diri disini, karena semua akan kembali ke jakarta kecuali aku. Karena aku punya perjalanan sendiri, aku harus meneruskan perjalanan ke cibeureum-tasikmalaya. Selama seminggu aku akan magang disana. Rombongan akhir sudah pulang aku harus menunggu seseorang yang akan menjemputku untuk sampai ke cibeureum. Aku coba menghubungi orang yang bisa menjemputku.
“hallo iya pak saya di alun-alun singaparna. Bapak dimana?” setelah sekian kali aku menghubungi akhirnya diangkat juga.
“ oke kamu tunggu disitu saya akan kesana.”
“oke pak” aku langsung melangkahkan kaki sepertinya aku ingin naik becak saja tapi setelah berpikir ulang lebih baik jalan kaki saja menuju alun-alun. Lelah sekali rasanya jalan di saat terik seperti ini, aku duduk di beranda mesjid.
“mau kemana a’? seperti aa bukan orang sini?” seorang pemuda mengagetkan aku
“ouh iya saya dari jakarta mau ke ciberem”
“ci-beu-reum yang bener a’ bukan ciberem begitulah saya nada bisa salah arti juga lo a’ bahasa sunda” dia tersenyum. Dalam hati aku tertawa ternyata aku salah penuturannya.
“ouh iya saya mau kesana kalau dari sini masih jauh a’?”
“kira-kira 3 kali naek angkotlah a’” lumayan juga jauh
“nuhun a’ temen saya udah selesai ke kamar mandi. Pamit a’” aku menganggukkan kepala. Handphone-pun berdering.
“ya hallo pak!”
“kamu dimana?”tanya suara diseberang sana.
“saya di alun-alun singaparna pak”
“dimananya kamu. Saya sudah disini” katanya. Berulang kali aku bilang aku disini dia-pun mengatakan hal yang sama kalau dia sudah disini, entahlah siapa yang salah. Setelah lelah aku memutari alun-alun singaparna. Kami saling bersikeras jika kami sudah berada disini.
“oke sekarang kamu ada dimana?”
“saya dari tadi di alun-alun singaparna pak”
“ouh kenapa tidak bilang kalau kamu di alun-alun singaparna. Saya di simpang lima, ya sudah kamu naik angkutan umum saja ke simpang lima nanti saya jemput. Masih jauh soalnya dari sini kesana.” Pantas saja dari tadi kami tak bertemu ternyata masing-masing salah mengartikan nama tempat.
“okelah pak” jam sudah menunjukkan pukul 11.00 terik matahari sangat menyengat, aku begitu berkeringat kenapa tak bilang dari tadi aku harus naek angkot. Aku tidak tahu harus naek angkot apa untuk mencapai simpang lima. Lebih baik bertanya bukan begitu juga saran pepatah ‘malu bertanya sesat dijalan’.
“nuhun a’?” sedikit berlagak sunda agar terlihat ramah seperti warga sekitar.
“kalau saya mau ke ci-beu-reum naek angkot yang mana ya a’?” dengan susah payah aku melafalkan cibeureum agar tak dipermasalahkan lagi haha.
“ouh naek saja angkot ini nanti tanya lagi sama kerneknya” dengan segera aku menaiki angkot yang ditunjukkin orang tadi.
“a’ saya mau ke ci-beu-reum nanti saya turun dimana ya?”
“ouh nanti saya tunjukkan a’” ah aman rasanya kalau sudah begini aku bisa duduk tenang tidak lagi panik. Cuaca diluar sudah rintik-rintik gerimis. Kernek itu turun menghampiri sebuah angkot putih berbicara sesaat.
“a’ itu angkotnya naek saja.”
“makasih a’ makasih” segera aku melompat ke angkot selanjutnya. Aku duduk tenang saja di angkot ini. Tak berapa lama yang sopir bicara padaku.
“a’ jalan aja ke seberang sana nanti ada angkot putih naek aja angkot itu bilang simpang lima” ujar sang sopir. Hujan cukup deras aku angkat kupluk jaket-ku untuk menutupi kepala dari air hujan dan mulai berjalan menyeberangi jalan yang cukup lebar ini. Sampai diseberang sudah ada angkot putih yang akan aku tumpangi, angkot ini diam disini untuk menunggu penumpang.
“daerah ini apa namanya pak?” aku coba bertanya
“alun-alun tasik, kamu mau kemana?” aku mengangguk alun-alun tasik rupanya
“saya mau ke simpang lima” setelah dapat penumpang, angkotpun mulai jalan. Sekitar 15 menit aku sudah sampai disimpang lima. Sopir yang memberitahu jika tempat ini simpang lima, aku turun dan mulai menelpon
“halo pak saya sudah disimpang lima”
“saya dari tadi disimpang lima, saya pakai mobil jazz putih” aku lihat sekeliling tak ada yang menggunakan jazz putih disini.
“dimana pak saya tidak liat?”
“didekat pos polisi.”
“saya di pos polisi pak?”
“kamu simpang lima mana? Jangan simpang lima tasik yang tugunya kecil ya?”
“iya pak yang tugunya kecil” akhir suara di seberang sana tertawa dan mengatakan tunggu sebentar disana saya mau jalan. Ternyata salah lagi sudah hujan, salah tempat lagi, apes betul hari ini.
 Seseorang diseberang jalan melambaikan tangan padaku, itu dia yang menjemputku. Akhirnya ketemu juga, jaket sudah basah lagi. Pertama berjabat tangan dia sudah mulai tertawa dan bercerita tentang kesalahpahaman kami. Aku dibawanya ke tempat magangku selama seminggu nanti.
Huaaaa! Bangun pagi udara dingin begitu menusuk kulit, pagi pertama ditasik. Aku suka dengan udara ini yang membuat aku semakin semangat untuk bangkit belajar menjadi seseorang yang lebih baik.  Tak banyak hal yang aku lakukan di sini hanya sekedar belajar, seminggu berlalu tapi selama seminggu itu banyak tempat yang aku kunjungi, hal menarik pertama ditasik adalah rumah makan prasmanan yang murah meriah ada yang hanya enam ribu rupiah, ada yang delapan ribu rupiah, makan disini sudah murah sepuasnya lagi memilih menu. Selain itu banyak terdapat kolam renang yang menarik di tasik salah satu kolam renang tirta, Mengunjungi kolam renang Tirta Alam bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghabiskan liburan akhir pekan. Bertempat di Jalan Garuda Kota Tasikmalaya, kolam renang ini mempunyai banyak wahana yang bisa Anda dinikmati.
Selain itu, tiket masuknya pun relatif murah, hanya Rp 10.000,- per orang. Plus tempat parkir yang luas, sehingga para pengunjung yang datang membawa kendaraan dapat leluasa memarkirkan kendaraannya yang dijaga ketat oleh petugas keamanan khusus kolam renang.
Sebelum masuk ke kawasan kolam renang, pengunjung dimanjakan dengan taman yang cukup besar. Kadang juga ada hiburan dari tempat ini misalnya dangdutan dan yang lainnya. Ditambah dengan kolam ikan yang digunakan untuk berperahu dan diatasnya terdapat serambi yang digunakan sebagai tempat makan. Ada juga miniatur hewan yang bisa digunakan untuk berfoto. Terutama bagi anak-anak. Di Tirta Alam terdapat empat kolam renang. Antara lain kolam renang untuk balita, anak TK/SD, umum/dewasa dan khusus wanita. Kolam renang untuk balita tingginya hanya sekitar 20 cm. Kalau ada paket rombongan dari TK atau PAUD, kolam ini biasa digunakan untuk lomba menangkap ikan. Sedangkan kolam renang khusus wanita biasanya ramai dikunjungi oleh para muslimah dari pesantren. Begitulah tasik malaya yang terkenal akan kota santrinya sampai-sampai tempat wisatapun menghargai budaya di tasik yang budaya santri sehingga membentuk tempat yang khusus untuk muslimah.
Di kolam renang untuk anak, terdapat mini waterboom. Di kolam renang untuk anak ini, biasanya paling penuh pengunjung. Tidak hanya anak-anak saja, remaja bahkan ibu-ibu juga suka bermain seluncur air di kolam ini. Selain berenang, tambah dia, pengunjung bisa menikmati wahana out bound seperti flying fox, spider web, dan perahu. Untuk semua wahana out bound, keamanan dan keselamatan pasti terjaga karena di sini ada tim khusus yang membimbing dan tentunya sudah berpengalaman. Semua bisa terjamin karena segalanya sudah dipersiapkan sesuai dengan standarnya masing.
Selain tempat wisatanya tasik juga memiliki alam yang masih terbilang alami misalnya persawahan warga yang masih banyak terdapat dimana-mana di tasik ini, lalu ada juga kolam ikan atau empang milik warga yang banyak memelihara ikan bawal dan mujair, ouh ia aku juga sempat membongkar kolam untuk manangkap ikan bawal, selama dua jam aku berusaha menangkap ikan bersama beberapa orang lainnya, kami mendapatkan kira-kira lima ikan lebih yang kemudian kami bakar untuk dimakan bersama-sama ini hal menyenangkan menurut aku karena selama ini aku belum pernah membongkar kolam ikan seperti saat itu. Selain membongkar kolam aku juga sempat ikut kerja bakti bersama warga sekitar membereskan lingkungan dari rerumputan liar yang banyak tumbuh di pemukiman warga, membersihkan got-got dari sampah, dan aku juga sempat membangun sebuah rumah berlantai dua secara bergotong royong memindahkan semen dan pasir, membuat cor-coran bangunan, dan membuat kerangka besi untuk bangunan juga sempat aku lakukan hal yang jarang bisa temukan dikota-kota itulah yang menyenangkan hidup didesa gotong royong masih terasa.
Aku juga sempat bermain sepak bola di salah satu lapangan yang terdapat diatas bukit di daerah manonjaya, jarak dari cibeureum ke manonjaya mesti menempuh jarak yang cukup jauh entah berapa kilo melalu jalan yang sepi dengan kecepatan 90 km/jam saja kita harus menghabiskan waktu sekitar 30 menit kurang lebih. Ada hal yang menarik dari manonjaya yaitu masjid agung manonjaya-nya karena dari masjid agung manonjaya inilah berawal kota tasikmalaya menurut cerita begitulah. Masjid agung manonjaya merupakan salah satu masjid tertua di Kab. Tasikmalaya yang didirikan tahun 1837.
Masjid Agung Manonjaya dibangun pada tahun 1837 M. Namun, ada pula yang menyebutkan, masjid ini dibangun pada tahun 1832 M. Terlepas dari kedua data tersebut, yang pasti, masjid itu sudah berdiri lebih dari 170 tahun. Masjid kebanggaan warga Tasikmalaya, Jawa Barat, ini terletak di Dusun Kaum Tengah, Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Tasikmalaya. Selain karena usianya yang panjang, masjid ini juga memiliki ciri khas tersendiri dari segi arsitekturnya.
Dengan usianya yang mendekati dua abad itu, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Masjid Manonjaya yang memiliki luas sekitar 1.250 meter persegi ini menjadi kawasan cagar budaya (purbakala) yang wajib dilindungi dan dilestarikan. Ketetapan pemerintah itu dikeluarkan oleh Badan Arkeologi RI yang merujuk UU Kepurbakalaan pada 1 September 1975 bersama dengan Masjid Agung Sumedang.
Keputusan ini diperkuat lagi melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 5 Tahun 1992 yang menyatakan bahwa Masjid Agung Manonjaya sebagai bangunan cagar budaya yang harus terus dilestarikan.
Sekitar 51 tiang masjid dari total 61 tiang yang ada dengan diameter antara 50-80 sentimeter (cm) yang terletak di beranda masjid. Tepat di depan beranda itu juga bisa menikmati keindahan dan kekokohan dua buah menara yang pada masa lalu biasa digunakan muazin untuk mengumandangkan azan ke seluruh pelosok kota. Kedua menara itu persis mengapit pintu gerbang utama yang menghadap langsung ke alun-alun Manonjaya.
Dari segi arsitekturnya, Masjid Agung Manonjaya ini begitu kental dengan nuansa neoclassic, seperti kekhasan bangunan di Eropa. Pada beberapa bangunan tertentu, tampak sentuhan art deco yang menjadi ciri arsitektur bangunan di negeri Belanda.
Secara umum, arsitektur Masjid Agung Manonjaya ini memadukan desain Eropa dengan aristektur tradisional Sunda dan Jawa.Nuansa tradisional itu sangat terasa dengan bentuk dari elemen bangunan, seperti ruang shalat untuk wanita, serambi (pendopo) di sebelah timur, dan mustaka (memolo) yang konon merupakan peninggalan dari Syekh Abdul Muhyi, ulama asal Pamijahan, Tasikmalaya Selatan.
Beberapa unsur bangunan yang sangat khas dan melambangkan percampuran unsur tradisional dengan Eropa klasik itu adalah atap tumpang tiga, serambi (pendopo), dan struktur saka guru yang terdapat di tengah-tengah ruang shalat.
Kekhasan lainnya dari masjid ini adalah keberadaan tiang saka guru yang berjumlah 10 buah. Konstruksi tiang-tiang saka guru tampak berbeda dibandingkan konstruksi serupa yang lazim ada di bangunan masjid-masjid masa lalu dan masa kini. Bila Masjid Agung Demak menggunakan tiang saka guru yang terbuat dari kayu, sebaliknya tiang saka guru Masjid Manonjaya ini menggunakan material pasangan batu bata. Masing-masing tiang saka guru berbentuk persegi delapan dengan diameter 80 cm, ujar Didi Iskandar, ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Manonjaya.
Seperti umumnya masjid-masjid yang dibangun di masa lalu, Masjid Agung Manonjaya ini juga menggunakan bahan-bahan yang terbuat dari kayu jati, kapur, dan tanah liat. Ketiga material itu digunakan sebagai bahan struktur rangka dan campuran tembok masjid. Tapi sayang beberapa saat yang lalu saat terjadi gempa banyak tiang masjid ini yang roboh, begitulah masjid cerita tentang masjid agung manonjaya.
Ya itulah perjalananku selama seminggu ditasik diwaktu luang aku habiskan untuk pergi berjalan menuju tempat-tempat yang bisa menenangkan diri, dengan pergi kesana aku bisa segar kembali dan bisa berpikir lebih baik lagi. Mungkin masih banyak lagi tempat-tempat yang bisa kita kunjungi ditasik hanya saja aku tak bisa mencapai. Gunung galunggung saja aku belum bisa mencapainya mungkin dilain waktu aku bisa kesana.