Kamis, 06 Oktober 2016

Ada Orang yang Tak Sadar, Bunuh Diri

Kemarin ada orang yang merobek wajah sendiri
Sementara dia mengira telah menyiksa orang lain
Dia mencabik-cabik diri sendiri
Tanpa sadar, dia kira bunuh manusia lain

Dia berkaca kemudian menuduh bayangannya
Dia berjalan pada terik, bayangan yang bersamanya pergi menjauh
Siapa dirinya? Siapa dia? Siapa sebenarnya?
Sungguh kasihan, dia yang berjalan pada ranjau yang ditaruh sendiri

Ranjau itu kapan saja akan makan tuannya
Sudah terlalu rabun pandang matanya, sampai ranjau sendiri tak terlihat
Sudah terlalu pikun dirinya, sehingga ranjau sendiri dia lupa
Ada orang yang tak sadar dirinya telah membunuh diri sendiri


Rabu, 05 Oktober 2016

Siapa Anda sebenarnya? Beraninya Menyikut Keyakinan Kami!

Saya hanya ingin bertanya, sebenarnya apa yang Anda kejar dari sebuah jabatan? Kekuasaan atau harta? Atau sesuatu yang lebih besar yang sedang dalam perencanaan? Mengapa selama Anda menjabat lebih banyak sensasi dibanding hasil? Saya hanya seorang pemuda yang doyan memperhatikan meme-meme lucu di Instagram dan medsos lainnya. Bahkan meme lucu ini lebih mendidik dibandingkan dengan cara Anda bertingkah, apakah hati Anda sudah terlalu gelap sehingga menyinggung sebegitu banyak masyarakat Jakarta hanya untuk sebuah kekuasaan yang terus Anda kejar hanya lima tahun ke depan yang tidak abadi, maaf bukan masyarakat Jakarta saja yang tersinggung, Indonesia, bahkan Muslim dunia.

Hari ini adalagi ucapan baru Anda yang menggegerkan pemberitaan, saya cuma mampu menulis jadi saya menulis, dan saya tidak suka anarkis. Kalau saya anarkis Anda bilang teroris, kalau saya anarkis Anda pasti bilang,

"Katanya agamanya mengajarkan kedamaian terus kenapa anarkis?" Anda sekalian mengerti akan ajaran agama kami yang damai, tapi kenapa melarang menjalankan perintah agama kami yang lainnya untuk memilih pemimpin Muslim? Bukankah itu sudah mencampuri apa yang seharusnya jadi batas yang tidak Anda lewati? Kalian hanya suka meletakkan air dingin dimeja kalian sedang membiarkan kami haus ditengah gurun, bukan begitu?

Ini memang kompetisi untuk menjadi yang nomor 1 di Jakarta, tapi Anda jangan menyakiti hati orang lain untuk sifat haus kekuasaan Anda. Janji Anda yang manis untuk membangun itu tidak memberikan sebuah kesejahteraan. Membangun dalam kamus Anda tidak diselipkan kata sejahtera bagi masyarakat Jakarta, oleh karena itu banyak orang yang sakit hati. Orang-orang itu, jika mereka tidak legowo maka ada banyak sumpah yang bertebaran menghampiri Anda. Sejak kemarin saya tidak suka menulis tentang politik apalagi membahas Anda gubernur DKI, tapi Anda sudah menyinggung hati saya dengan kalimat ini,

"Kalau Bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin dengan surat Al Maidah 51, macem macem itu. Kalo bapak ibu merasa ga milih neh karena saya takut neraka,dibodohin gitu ya gapapa" Anda bilang begitu ketika berkunjung ke Kepulauan Seribu dan diunggah ke youtube pada senin (26/9/2016). Apa surat Al-Maidah ayat 51 telah membodohi Muslim? Saya bertanya balik kapan Anda lahir ke dunia? Sudahkah Anda mempelajari seluruh ilmu yang ada di jagat raya ini? Apa pencapaian terbaik anda? Siapa Anda sebenarnya? Sehingga begitu berani menentang kitab kami!

Sensasi Anda sudah berlebihan, cukup Anda menggusur masyarakat miskin lalu membela orang kaya yang membangun rumah ditepi laut, itu sudah cukup menyikut hati bapak Jokowi bukan? yang tahu rasa sakitnya menjadi korban penggusuran, itu tidak masalah karena Anda beralasan itu tanah milik negara. Tapi ketika kalimat yang Anda ucapkan di kepulauan seribu kemarin, kalimat itu sangat menyakitkan kami masyarakat muslim, Anda mungkin tidak mengerti tentang Al-Quran bisakah setidaknya menghormati. Apa yang ada dalam Al-Quran adalah kewajiban kami untuk mentaati, saya jadi ingin bertanya Anda ini sebenarnya siapa? Pejabat publik, penggusur, preman yang Anda sendiri minta juluki, atau musuh Muslim, dengan beberapa kalimat yang mulai membuktikan itu? Anda siapa?

Saya juga mau bertanya pada teman Muslim,

"apa kalian memakan babi?"

"Haha, Haha, ya jelaslah tidak! Itukan haram." Kalian akan menjawab seperti ini sambil menganggap ini pertanyaan bodoh yang tidak perlu lagi dilontarkan. Iya dalam Al-Quran ada empat ayat yang melarangnya. Kita Muslim mampu mentaati sepenuhnya, hebat luar biasa.

"Lalu kenapa kalian memilih pemimpin non-muslim?" Sebagian kalian akan terdiam membisu menyadari kekeliruan tapi terhalang kepentingan, sebagian yang lain akan mencaci-maki, ada juga sebagian yang akan terus mengorek-ngorek logikanya untuk mencari pembenaran, begitu bukan? Ada lima belas ayat, bukan, empat ayat yang melarang kita untuk tidak memilih pemimpin non-muslim. Empat ayat bisa ditaati sepenuhnya oleh seluruh Muslim lalu mengapa lima belas ayat yang jelas hampir empat kali lipatnya tapi ada banyak yang menentang, terlalu sulitkah lari dari kepentingan dunia sampai-sampai menggadaikan perintah Allah Subhana Wata'ala.

Sekali lagi saya ingin bertanya siapakah anda Bapak Gubernur yang terhormat? Begitu berani menyikut keyakinan kami! Takkan ada asap kalau tak ada api Bapak Gubernur! Sebisa mungkin kami berusaha tidak anarkis agar kami tidak dianggap teroris. Biarkan kami dengan agama kami, dan Anda dengan agama Anda! Mari kita saling menghormati dan menghargai!

Senin, 03 Oktober 2016

Apa itu Egois?

Kali ini gua ingin menuliskan sebuah tulisan yang menampar diri sendiri. Duduk seorang diri di bangku tunggu PGC karena gua datang terlalu cepat, mall ini belum buka. Disela menunggu terbersit dalam kepala tentang sifat yang gua sendiri membencinya bagaimana orang lain. Kesadaran diri sesungguhnya ada tapi penyakit satu ini mudah kambuh bahkan menjadi candu. Menjadi yang terbaik itu hebat tapi memaksakan dengab segala cara agar jadi yang terbaik itu harus dipertanyakan? Pantaskah?

Oke, penyakit itu adalah Egois, sebuah kata yang berasal kata ego yang artinya struktur psikis berhubungan dengan konsep diri diatur oleh prinsip realitas, ditandai kemampuan menoleransi frustasi. Ego lebih pada keseimbangan, ini positif, sedang apa yang gua miliki adalah egois.

Egois tidak hanya gua temukan pada diri sendiri banyak juga gua temukan pada orang lain bagaimana sifat ini menjelma jadi sifat yang menjengkelkan bahkan dibenci orang lain. Sayangnya hanya teman dekat yang berani mengungkapkan kejujuran keegoisan kita sedangkan orang lain akan lebih banyak diam, jadi penonton dan menggerutu dalam hati.

Egois gua rasakan seperti sebuah sifat yang menempatkan diri gua ditengah satu tujuan tanpa peduli tentang orang lain. Sifat ini sudah lama menjangkiti diri gua, tapi semakin dewasa gua semakin memahami sifat ini sehingga perlahan gua berusaha berubah walau seringkali kambuh.

Egois bisa mengarah pada kesombongan, keangkuhan, dan terlalu mencintai diri sendiri. Bicara besar padahal aksi kecil, membanggakan diri sendiri didepan orang banyak secara berlebihan, seolah paling tahu segalanya padahal bermodalkan cerita. Dalam setiap renungan gua menyadari ternyata gua telah salah dalam menempatkan diri dalam dialog dengan orang lain. Jika sudah sampai tahap itu gua akan menahan diri untuk jadi pendengar yang baik.

Orang pintar itu sedikit bicara tapi kena hasilnya, tapi orang egois banyak bicara kosong isinya. Gua faham betul akan hal itu, gua pernah menjalani pada posisi itu.

Bukan hanya hal diatas bagian dari sifat egois, jika diperingatkan selalu membantah dan merasa paling tahu. Mencari pembelaan kadang sampai menembus batasan, bahkan melewati apa yang sudah jelas dilarang oleh agama. Jika salah sulit mengakui, semaksimal mungkin mencari pembenaran. Menghasut orang lain, menjelek-jelekkan mereka yang benar padahal sudah jelas orang lain tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Hanya beberapa yang respek dan sepaham saja yang akan menyetujui kata-katanya kadang juga karena memang terpaksa, jika dimentahkan orang tersebut mengerti dia akan menjadi sasaran Selanjutnya untuk sebuah kebencian yang akan disebarkan ke orang lain.

Gua sudah berusaha melewati masa itu, gua sempat berpikir jika sifat egois sering juga disebabkan dengan hati yang menyimpan kebencian, hati yang terdapat bintik hitam, semakin diperingatkan semakin tidak mau mendengarkan kebaikan karena bintik hitam itu terus bertambah sampai benar-benar menutupi hatinya. Sehingga tidak satupun perkataan orang lain yang mau dia dengar.

Gua menyesali saat itu, bagaimana banyak sekali perkataan orang lain yang gua mentahkan kemudian gua menemukan banyak kegagalan. Beginilah cara Allah mengingatkan untuk sadar dengan ke-egois-an yang gua pelihara dalam hati. Watak ini mendarah daging jika dibiarkan.

Banyaknya kegagalan dan kekesalan orang lain yang menyerang diri gua mengajarkan gua bahwa egois telah mencelakai gua. Gua harus berubah walau sulit, jadilah pendengar yang baik.

Minggu, 02 Oktober 2016

Mari Bertukar Rasa

Bisakah kau bertukar rasa berang sedikit saja
Aku yang minta pada akhir perjumpaan
Tapi justru jadi jeruji kemudian hari
Aku tidak bisa beranjak dari manisnya kesan yang engkau sematkan

Lingkaran kenangan ini mengelilingi langkah maju
Kemana melangkah dia berkelakar, jika aku tidak mampu berpaling
Berhenti memenjarakan aku, tolong berhenti
Tapi engkau sudah lama pergi, tidak bertanggung jawab lagi tuk hari ini

Kesan manis itu nyatanya juga ranjau yang meledak tiap kali salah melangkah
Mendung menakutkan dalam perjalanan
Engkau hujan, bagaimana aku bisa lari darimu
Tiap tetesan merupakan panah kenangan,

Sesekali lupa kala sedang bermain dengan merpati putih
Tapi engkau mawar merah durinya masih terasa
Buat aku terus terdesak untuk mengingatnya
Bisakah barang sebentar kita duduk, lalu bertukar posisi tentang rasa sakit

Sabtu, 01 Oktober 2016

Itu Yang Benar

Masih, aku bersemayam dibalik kelambu malu
Aku bertanya pada sebuah janur di sisi jalan
Apakah gagah itu berdasarkan dasi yang dikenakan?
Atau dompet yang diayun-ayunkan?

Jika iya, maka aku bukan kegagahan itu
Jika tidak, mindset itu sudah tertanam melekat
Keheningan bukan solusi, temaram hati tiap pagi rasa pilu
Menjauhlah hari-hari pekat, kelabu itu jelas menyengat

Ada yang berlomba-lomba menyudahi masa lajang
Ada yang bersabar dalam keraguan
Ada yang tidak tahu arah dalam tujuan
Ada prinsip-prinsip yang memaksa bertahan lebih lama

Kata orang, kata orang, orang memang terus berkata
Tapi kita dipaksa mendengar
Gerah, gelisah, ada resah mendesah halus ditelinga
Mengalir berkata lembut, menikahlah itu yang benar

Mahar termurah itu surga terindah
Berjuang bersama itu cinta
Membesarkan bayi-bayi merah kelak jadi surga
Bukan bermewah-mewah pada akhirnya sengsara
Menikahlah itu yang benar, katanya