Rabu, 09 November 2016

Arogan Sekali Anda, Tuan!!!

Arogan sekali anda, tuan!
Nama Anda dicoret setitik, penegak hukum turun, perintah bertubi, penjara, siksa
Tapi ketika ayat Allah dinistakan
Anda diam tak bertaji, berpura bodoh, tak tahu arah pulang, bersembunyi dibalik semu bayang-bayang dusta

Anda terlalu kuat melampaui yang Anda bayangkan
Sampai Anda sendiri lupa dimana berpijak
Di tanah yang  merdeka karena pekikan takbir para pahlawan
Disana tempat anda beranak

Arogan sekali Anda, tuan!
Bermain dengan Tuhan seolah lupa
Lupa bila mati sedang menanti-nanti dipintu depan
Sekantong buah busuk yang kami cari ternyata satu gudang yang anda tunjukkan sendiri, Salah Anda telah salah mengira!

Kami selama ini menonton sandiwara yang Anda perankan
Bukan kami tidak paham
Tapi Anda terlalu jauh malam mengambil peran yang salah
Sehingga buat jiwa, raga, hati kami marah

Siapa Anda? Arogan sekali, tuan!
Kemari hampiri kami, yang didalam cerita Anda sebagai emas
Di kehidupan nyata Anda pada 4 November  jadi sampah jalanan
Sebegitukah, sebegitukah ketakutan Anda akan peran yang terbongkar, sebegitukah Anda cemas!
Arogan sekali Anda, tuan!!!

Sabtu, 05 November 2016

AKSI 411, KAMI TURUN MENGAWAL HUKUM!!! MANA MUNGKIN MEMBENCI KALIAN???

411, masih terngiang dikepala. Buat yang tidak mengerti jangan banyak bicara! Jangan menerka-nerka! Jangan berburuk sangka! Biar seorang yang turun ini menjelaskan sedikit, jika salah maka benarkan! 411 tujuan kami hanya meminta bapak Presiden Joko Widodo meluangkan waktu sedikit disaat jam istirahat makan siangnya agar mendengar isi hati umat muslim Indonesia yang gerah karena prilaku anaknya emasnya.

Tujuan kami turun ke jalan ditengah hari itu, untuk meluruskan hukum yang hanya mengincar mereka-mereka yang kecil, mereka-mereka yang tidak istimewa, mereka-mereka yang tidak berkuasa. Kami turun hanya meminta 1 orang penista agama yang jelas sudah salah, yang jelas bersalah untuk diproses sesuai hukum yang berlaku, hukum yang kita banggakan selama ini, hukum yang sama yang telah menjerat Jessica berbulan-bulan lama prosesnya, hingga menjadi sinetron kejar tayang di tv-tv kami. Hukum yang telah memenjarakan seorang nenek pencuri kayu, hukum yang telah memenjarakan seorang pencuri sendal, hukum yang telah memenjarakan teroris-teroris yang "kalian bilang", hukum yang telah menjerat pencopet-pencopet imut, pencuri nakal, pembunuh, pemerkosa, hukum yang telah memenjarakan mereka semua.

Kami turun untuk melihat hukum yang kita banggakan bersama, hukum di negara ini tegak. Bukan hukum yang pilih kasih, katanya si penista telah meminta maaf maka maafkanlah. Agama kalian mengajarkan itu. Benar!!! Tapi apa seorang pencopet, pencuri, perampok, pemerkosa dan pembunuh yang telah meminta maaf kalian bebaskan? Ada proses yang harus diikuti. Cobalah sejenak buka mata hati, sesaat..... Saja!

Kami turun bukan membenci non-muslim, ingat!!! Kami tidak pernah berlaku dzalim kepada non-muslim. Buktinya kami membiarkan katedral tetap berdiri kokoh, masih tampak indah pada tempatnya, tidak lecet sedikitpun. Jika kami membenci non-muslim, untuk apa kami membiarkan adanya demokrasi? membiarkan hal ini terjadi, bisa saja sejak lama kami bangkit, tapi bukan itu yang diajarkan pada kami oleh agama kami. Kami turun bukan untuk membuat kerusuhan, ingat!!! Sampah sekecil apapun kami pungut, sisa-sisa koran shalat Jumat kami rapikan lagi, taman yang sebelumnya media besar-besarkan rusak karena pendemo, utuh tak rusak sedikitpun. Jadi naif benar bila ada yang membuat kerusuhan saat Aksi Damai kami, berpikir jernihlah akan hal itu. Kami berpakaian putih dengan celana rapi, duduk tenang, berdiri santai, mendengarkan orator-orator kami membakar semangat agar kami tetap  berdiri untuk membela kitab suci kami yang dinistakan, kami berdiri kokoh hingga malam hari menunggu pemimpin negeri ini yang lari, kami terus menanti, sesekali,

"Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar" takbir kami kumandangkan agar hati kami tenang tidak tersulut emosi, agar kemarahan, dan kebencian diletakkan pada tempat yang tepat. Tapi entah bagaimana bisa ada penyusup-penyusup yang nampak jelas memperkeruh keadaan, memanfaatkan suasana. Agar kami dicap sebagai agama yang brutal, agama yang anarkis, agama yang hobby membuat kekacauan. Komandan kami adalah ulama kami, komandan kami berdiri paling depan memasang badan, menjadi tameng dengan jantannya melindungi prajurit-prajuritnya. Mana mungkin ulama kami memerintahkan untuk membuat kericuhan disaat mereka terus memberikan ketenangan di hati kami dengan shalawat dan takbir. Kami turun untuk aksi damai,

Tapi untunglah saat ini mata-mata kalian sendiri sudah faham akan hal itu, hati kalian menyadari itu, walaupun mulut kalian terus mengungkirinya dengan kalimat kebencian. Sebenarnya kalian faham jika mereka yang rusuh bukan bagian dari kami, yang memulai bukan kami, kami tidak berlaku demikian. Tengoklah ulama-ulama kami, maka kamipun demikian. Karena kami mempercayai ulama kami. Kini terimakasih pada hati-hati kalian yang telah mengakui kebenaran meskipun mulut kalian terkurung pada gengsi yang dituhankan, pada uang di puja-puja, pada jabatan yang dibangga-banggakan, terimakasih hati kalian telah menyadarinya. Kebenaran adalah kebenaran, hati tidak mungkin menolaknya. Ingat akan hal itu. Kami turun untuk mengawal fatwa MUI, dan mengawal agar hukum di negeri ini berjalan sesuai dengan yang seharusnya!!

Jumat, 04 November 2016

SALAM UNTUK PEMIMPIN KAMI YANG HILANG

Bapak Presiden Joko Widodo Anda punya waktu blusukan pada tukang sayur di pasar, Anda punya waktu datang jauh ke Papua untuk mendengar suara rakyat "katanya", Anda punya waktu ke sawah-sawah berkotor-kotor ria, Anda punya waktu kemana-mana untuk blusukan, yang katanya pro rakyat. Mereka yang berada ditempat yang Anda datangi hanya segerombolan saja. Apa anda menyimpulkan sesuatu berdasarkan pendapat segerombolan orang saja? Naif sekali.

Kemarin 411 kami datang dari seluruh wilayah indonesia tanpa terkecuali, dengan dana pribadi, hanya Allah subhana wata'ala yang jadi penyokong hati, agar kami kuat melangkah menuju rumah Anda, istana Anda!! Kami datang dari tempat-tempat blusukan Anda. Tapi Anda menghilang entah kemana? Apa anda sudah mulai bosan mendengar aspirasi rakyat? Apa anda hanya mau mendengar orang yang Anda datangi saja bukan yang mendatangi Anda?

Katanya Anda pro rakyat? Lalu kami yang datang memenuhi Jakarta, memutihkan Jakarta untuk didengarkan oleh Anda? Kami ini apa? Apa kami bukan rakyat? Apa kami bukan manusia? Apa kami cuma setumpuk sampah? Sehingga Anda menghina kami dengan menghilang saat berjuta tamu hadir untuk anda? Siapa kami ini bagi Anda?

Kami hanya butuh didengar, kami hanya ingin Anda ada, hanya ingin 1 anak emas Anda di adili karena telah menyentuh SARA, MUI kami tidak pernah masuk ranah politik, sementara anak emas Anda malah masuk ke ranah agama demi ketamakannya dalam kekuasaan. Kami tidak pernah mengusik siapapun, tapi kalau agama kami diusik maka nyawa sekalipun akan kami pertaruhkan.

4 November Anda telah membuat hati kami semakin sakit, semakin perih, semakin tidak mempercayai janji yang Anda ucapkan di atas kitab suci Al-Quran. Ingatkah Anda akan janji itu? Terbuat dari apa hati Anda? Apa sebegitu cepat Anda melupakannya? Sadarkah pertanggungjawaban seorang pemimpin jauh lebih besar di hari akhir nanti.

Baiklah kami hanya meminta 1 orang perusak kesatuan bangsa ini diadili sesuai hukum yang berlaku di negara yang Anda pimpin ini. Kalau Anda tidak bisa bagaimana kami mempercayakan berpuluh-puluh juta masalah yang sedang kami hadapi?

Terimakasih, salam hormat dari kami yang dhaif


Kamis, 03 November 2016

Jakarta Putih

Hari ini, putih itu putih
Hitam jelas hitam
Kita bisa memandang tanpa terhalang kepulan asap kebohongan, yang selalu buat mata perih
Permainan dalam sangkar kaca, tidak mampu membendung kebenaran

Hembusan satu ayat, menampakkan apa itu esa
Apa yang hanya satu, tiada dua
Kesombongan, keangkuhan, keserakahan bukan milik manusia
Hanya titipan semata, manusia hanya hamba

Hari ini, mulut kita terasa ringan
Hati begitu ikhlas, badan tanpa beban
Mata memandang jelas, nafas berhembus deras, mengikuti irama yang berhembus mulut berujar
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar

Hari ini, putih itu putih
Hitam jelas terlihat
Hari ini, Kebenaran mutlak  pulih
Jakarta putih, benar adalah hakikat

Bernafaslah ditengah terik
Melangkahlah dengan pekik
Bertakbirlah, bertakbir
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar

Selasa, 01 November 2016

Seorang Pengusik Ketenangan yang Kami Banggakan

Kami tidak membenci siapa kamu?
Tapi marah karena caramu berprilaku
Kami tidak kesal darimana kau berasal?
Tapi kami bergetar karena caramu berujar

Bangkai itu tidak pernah menghasilkan aroma kasturi
Mana ada pohon busuk berbuah wangi?
Bila dilubuk bersih, maka tidak mungkin kotoran bertebaran keluar
Bila dilubuk suci, pasti mengerti cara berkelakar

Kita bukan salah paham, hanya kamu gagal paham
Kami suka ketenangan, itulah mengapa lama kami hanya berdiam
Tapi kamu senangnya bermain genderang
Bila panggilan datang, pedang kami selalu siap berperang

Jangan bermain genderang bila tak paham fungsinya
Atau kamu paham tapi sengaja memulai, mengusik indonesia
Kamu masih bisa melihat matahari terbenam senja ini
Tapi akibat perang, kamu tidak mengerti sulitnya menanti terbitnya mentari pagi hari

Jangan mulai merusak ketenangan, rasa damai yang kami bangga sejak merdeka
Jangan usik, isu-isu demi mengelap kotoran yang kalian buang
Kepala manusia ada di hati, hati tidak pernah membantahnya
Bila harus, genderang telah berbunyi kami siap ke medan perang