Jumat, 30 September 2016

Wajahmu Itu

Hei, hei melihat wajah mu
Ada kesepian yang menghujam
Betapa perihnya rongrongan hati yang terusir
Seringkali datang, berjuang kecil, lalu ditendang

Hei, hei wajahmu itu, menyesakkan hembusan nafas
Tiap kali bersua, mengapa denyut nadi tidak biasa?
Mendung hari ini bukan karena cuaca tapi engkau tertawa dengannya
Senyumanmu terlalu banyak engkau semai, buat banyak yang salah sangka

Hei, deruan pagi tidak berembun ini begitu sesak
Aku diibukota yang lega, kau tau betapa mewah dan bergairahnya kota?
Tapi aku lunglai di sekumpulan puntung rokok, Sampah jalanan,
Sesak memang, habis sudah kata-kata, hati sepi, berlari dengan deru kendaraan pagi

Senin, 26 September 2016

Buon compleanno il capitano TOTTI

Menyebut nama salah satu klub ibukota Italia, 'AS Roma' hanya ada satu nama yang akan terbersit dihati seluruh penggila bola hari ini Francesco Totti. Sang pangeran yang belum habis, terus memberikan konstribusi bagi kekasih hati yang tidak sekalipun ia selingkuhi selama 23 tahun bersama. Selamat ulang tahun pangeran Roma, walau mendapat kado pahit kekalahan dari Torino. Tapi 250 goal jadi sebuah pencapaian istimewa bagi sang pangeran itu menjadikannya pencetak terbanyak serie A dibawah silvio piola dengan 274 goal.

Tidak mudah bagi seorang pesepakbola bertahan pada satu klub sepanjang karirnya terlebih dengan menjaga stamina serta kualitas permainan yang membuat dia terus jadi pilihan utama. Totti melakukan itu, terbukti dengan beberapa goal yang dia hadiahkan dalam beberapa laga terakhir untuk memberikan rasa nyaman dihati para fans agar percaya jika pangerannya belum habis. Tapi usia perlahan tetap memaksa dia sedikit menurun, tidak lagi segarang dulu.

Ada yang menilai sang pangeran bodoh dan salah mengambil keputusan untuk terus bertahan di klub ibukota, saat florentino perez menyuguhkan cek kosong untuk memboyong Totti ke Real Madrid. Andai saat itu pindah mungkin berbagai gelar telah dia raih, tapi kesetiaan itulah yang termahal bagi siapapun. Tidak mudah jadi kekasih yang tidak sekalipun berpindah kelain hati. Kesetiaan itu juga yang menjadikannya pangeran dan legenda yang terus terkenang dihati para pecintanya sampai hari ini. Pertandingan Roma tanpa Totti seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan. Entah bagaimana cara mengakhiri cinta keduanya? Apakah semua siap menerima jika sang maestro yang jadi pahlawan kota Roma selama ini harus dihentikan oleh usianya sendiri. Bagaimana mengakhiri cinta ini? Apa fans Roma siap jika kisah cinta Francesco Totti dan Roma harus berakhir? Selamat ulang tahun Francesco Totti...

Rabu, 21 September 2016

Cara Melawan Kebencian Orang Lain

Seorang teman datang, kemudian kami duduk bersama. Berbicara banyak hal ditemani dengan berbagai canda-tawa. Sampai pada tema dimana suasana jadi serius tak ada lagi tawa,

"Hei kemarin ada yang ngomongin lu kaya gini, bla bla bla...." Gua menanggapi dingin meski sedikit terpancing. Memang gua butuh mendengar kritik orang lain disatu sisi orang lain terlalu keras dalam mengkritik membuat gua seringkali terpancing untuk meluapkan balik kritikan tersebut, dulu memang namun sekarang gua sudah berusaha untuk mengambil keputusan cerdas dari kritikan serta omongan dibelakang yang seringkali menghancurkan optimisme yang telah gua bangun.

Beberapa hal yang akan gua lakukan untuk membalas kritikan serta omongan buruk dibelakang,

Pertama, ketika berjumpa gua selalu memberikan senyuman termanis, wajah terakrab. Setiap perjumpaan gua lakukan hal tersebut agar mereka melakukan hal sama meskipun dalam sandiwara. Mudah-mudahan mereka lupa jika sedang bersandiwara baik ke gua, sehingga muncul kebaikan yang tulus.

Kedua, awalnya memang gua terpancing untuk marah namun sesaat setelahnya gua berpikir jika gua marah kemudian membongkar balik atau menebarkan kebencian serta mengajak lawan bicara untuk membencinya juga. Lalu apa bedanya gua dengan dia yang membenci gua mungkin juga membenci orang lain? Kalahkan kebencian mereka dengan prestasi terbaik. Gua terus membangun diri, merubah diri jadi lebih baik dan lebih baik. Bungkam mulut-mulut mereka dengan apa yang mereka takutkan, yaitu salah dalam menyampaikan keburukan kepada banyak orang. Perlahan jika kita sudah sukses mereka akan datang mengendap berpura lupa lalu menjilat. Kamu akan paham jika suatu saat mencapainya nanti, gua pernah melihat beberapa kejadian pada orang-orang sukses. Apa yang orang bilang jika benar maka gua harus insropeksi diri jika salah biarkan itu terhitung fitnah, yakinlah jika kebenaran akan terlihat jika tidak sekarang maka besok, tidak besok maka lusa.

Ketiga, jika memang omongan tersebut sudah benar-benar membuat gua gerah. Gua hanya perlu menghampiri si pembaca berita keburukan diri gua. Lalu berbicara empat mata permasahannya, maka yakin 100% dia akan jadi salah tingkah lalu pergi menjauh dari peredaran. Menjaga jarak karena rasa bersalahnya sampai waktu yang tidak ditentukan. Biarkan saja, gua tidak perlu meminta maaf telah membuat dia menjauh. Tapi dia tidak akan pernah minta maaf karena gengsi yang digenggam erat. Gengsilah yang menghancurkan diri. Maka benar kata Alm. Bob sadino, bergayalah sesuai isi kantong.

Keempat, acuhkan saja omongan mereka karena ketika kita menanggapinya berapa banyak waktu yang bisa kita gunakan untuk menggapai sebuah kesuksesan terbuang percuma meladeni mereka yang tidak penting. Biarkan mereka asyik dengan kedengkiannya, perlahan akan tenggelam pada kegagalan, penyesalan, kekecewaannya sendiri. Biarkan mereka berenang dalam lautan kata kebencian, disaat yang sama kita sedang meniti tangga yang melelahkan. Biarkan tetesan keringat menjawab lautan kata yang percuma.

Pada intinya mereka yang terlalu banyak membicarakan orang lain adalah mereka yang kurang aktivitas sehingga mengisi waktu luang dengan menebarkan kebencian. Salahnya disini, seharusnya waktu luangnya diisi dengan kebaikan sayangnya jika sekali terjebak hal itu akan menjadi candu asal tahu penyakit ini bisa saja menular. Waspadalah, tahan diri lalu berpikir cerdas.

Selasa, 20 September 2016

Ketika Orang Awam Bicara Politik

Gua cuma bertanya-tanya dalam hati siapa yang salah dalam perjalanan politik negeri ini? Kenapa beberapa tahun belakangan begitu banyak keputusan-keputusan orang-orang penting negeri ini yang mengganjal hati. Perekonomian kacau, gaya hidup semakin bergeser, manusia semakin jelas terlihat menentang tuhan, dan sebagainya. Gua cuma anak ingusan yang mungkin baru bisa melihat segala hal hanya dari sebelah mata, apalagi menatap dengan mata hati.

Hemat gua, pada zaman pak harto dulu media tidak bisa bicara banyak, jadi pencitraan juga tidak banyak, penipu rakyat juga tidak banyak! Pindah ke zaman pak habibie semua masih berjalan tidak berbeda, ketika ada pemimpin cerdas, bersih, dan beriman seluruh negeri ini gerah. Keangakaramurkaanlah yang harus berdiri tegak dinegeri ini maka diturunkanlah beliau yang seharusnya bisa membawa negara menjadi berkembang pesat dengan ide brilliannya yang luar biasa dengan bukti begitu banyak paten ilmu atas namanya dirinya. Memang timor leste lepas pada masanya tapi jika diberi kesempatan lebih negeri ini bisa jadi semakin disegani dunia dengan tekhnologi yang canggih.

Ulama jadi pemimpin siapa yang tidak terkagum-kagum, beliau tidak menawarkan citra diri sebagai dagangan politik namun rasa hormat dari santri serta orang-orang yang memang telah menanamkan kepercayaan padanya, karena dia memang memiliki kemampuan tersebut untuk membawa bangsa ini jadi lebih baik terlebih kebosanan dipimpin oleh orang-orang biasa tanpa tingkat religius yang tinggi. Zaman Gus dur,  jadi masa paling menyenangkan buat gua dan anak-anak SD lainnya, kita bisa sebulan penuh libur diramadhan sambil bermain petasan.

Pindah pada zaman ibu Mega Pemimpin wanita pertama di tanah air ini, dinegeri yang di merdekakan oleh ayahnya. Menurut sejarah yang berseliweran ke telinga anak ingusan ini, jika dia telah membuktikan perkataan Ayahnya, jika perjuangan Ayahnya tidak terlalu berat karena hanya mengusir penjajah dari negeri ini sedangkan tugas kita adalah mempertahankannya. Tapi sang putri yang luar biasa, ini telah mengecewakan ayahnya. Dia telah menggadaikan negeri pada bangsa lain, begitulah ayah-ibu gua bercerita tentangnya sedang dia masih tampak manis dalam permainan politik negeri gua hingga hari ini.

Berpindah pada bapak SBY, presiden pertama yang memiliki nama tersingkat hanya 3 huruf tapi bisa menggeser pesaingnya untuk memimpin negeri ini, bahkan dua periode. Kehebatan dalam penguasaan bahasa indonesia serta bahasa asing buat dirinya tampak begitu cerdas. Postur serta pernah jadi pembela tanah air, menunjukkan sebuah ketegasan, kekokohan, kekuatan yang hebat untuk menjadi seorang pemimpin yang harus mengendalikan negeri serumit ini. Gua mengagumi pak SBY sebagai seorang yang mampu menampilkan tatacara berbahasa yang baik dan benar. Kepuasan akan kinerja untuk rakyat telah terbukti dengan dua periode dia masih berada disana, jika bisa tiga periode gua masih akan memilih.

Entah mengapa gua merasa kehilangan identitas diri gua, batin gua berkata, batin gua tidak mampu melihat jika pada pemilu  kemarin ada pemimpin diantara mereka yang menjadi calon. Dalam hati gua hanya ada keragu-raguan yang buat gua meninggalkan itu, seperti kata nabi tinggalkanlah keragu-raguan. Meski ada sedikit sesal tidak menuruti himbauan ustadz gua untuk memilih mereka yang mudharatnya sedikit.

Tidak maksud menyalahkan siapapun, menjatuhkan siapapun. Gua hanya anak ingusan yang berusaha melihat sebuah kenyataan yang ada. Di masa inilah dimana media bisa bebas berekspresi sebebas-bebasnya tanpa batas bahkan berhasil mengendalikan ratusan juta penduduk negera gua. Bagai hipnotis, dia datang, mengagetkan kemudian mengendalikan itulah media kala itu. Opini bertebar dimana-mana, media yang seharusnya netral bahkan semua orang tahu, anak bodoh seperti gua juga paham jika media itu harus netral. Tapi tidaj pada masa ini dimana media digenggam oleh mereka yang berkuasa, kemudian mengendalikan opini-opini kebaikan masing-masing pemiliknya. Pencitraan merupakan gaya hidup baru setelah selfie merajalela kala instagram muncul. Kita semua dibuat narsis oleh media, kalau tidak salah narsisius merupakan seorang pria tampan yang menolak seluruh wanita dan terlalu mencintai dirinya. Begitulah manusia pada masa ini, selain terlalu narsis pada dunia media sosial mereka juga narsis dalam berpolitik begitu juga para pendukungnya. Makna pendukung itu orang yang menyokong karena suatu hal positif atau satu paham. Tapi sekarang pendukung itu telah bergeser menjadi sebuah kata yaitu pemuja. Kalau pendukung itu ketika pemimpinnya membuat sebuah kesalahan, mereka mungkin saja berpaling sedangkan pemuja mau bagaimanapun pemimpinnya seberapapun kesalahan itu dengan mati-matian akan terus membelanya.

Gua cuma anak ingusan yang tidak mengerti, sedang berusaha melihat kenyataan. Menurut cerita media, bagaimana bisa seorang yang pernah menghina orang lain kemudian dengan cepat sepaham kemudian berubah pendirian, menjadi pendamping setia. Lalu mempermasalahkan speaker masjid, sebagai bocah ingusan yang tidak memiliki ilmu agama se-wah gus dur, eh terlalu jauh ustadz di mushola rumah gua. Gua mengerti jika speaker masjid itu digunakan untuk memanggil orang beribadah, menyampaikan ilmu serta mengingatkan manusia untuk meninggalkan kemungkaran. Speaker masjid tidak dibungkam saja, mushola rumah gua hanya ramai di maghrib dan menyedihkan di waktu lainnya. Peserta pengajian sedapatnya saja, orang-orang acuh tak acuh pada suara yang berkumandang. Apalagi dibungkam maka semakin butalah hati-hati mereka, sempat mendengar adzan saja sudah lumayan bagi manusia-manusia agar mengingat tuhannya meski jelas banyak yang meninggalkan karena alasan kesibukan.

Tinggalkan keputusan speaker pemberitaan lain juga memberitakan jika sebelum menjabat gubernur bapak jokowi bercerita betapa sakitnya menjadi korban penggusuran. Tapi saat dia pergi meninggalkan jakarta jadi presiden, bapak Ahok dengan slogan antikorupsinya, membuka luka lama bapak jokowi. Bapak Ahok dengan tangan yang ringan meratakan berbagai tempat kumuh yang jika ditanyakan aspek sejarahnya beliau tidak paham. Ambisius yang hanya melihat kedepan akan membuat kita buta dengan sejarah masalalu dan cara berjuang membela negara layaknya pahlawan yang beri kebanggaan tanpa menimbulkan kebencian dihati-hati rakyat kecil.

Bapak jokowi juga pernah berkata jika beliau jadi presiden banjir jakarta akan mudah diatasi, tapi balaikota sendiri terendam air. Entah jabatan mana lagi yang harus direngkuh agar banjir hilang. Aliran venice yang indah sempat terlihat di ufuk mata gua saat datang kelokasi banjir kala masih jadi relawan. Andai bisa diolah seperti venice pada masa lalu, ciliwung adalah wisata yang akan menjadi pemasukan jakarta. Tapi itu hanya pikiran singkat seorang anak ingusan lupakan. Yunani memperindah pulau-pulau mereka bukan membuat pulau baru seperti di kota gua hari ini, entah seberapa banyak pulau dikepulauan seribu yang akan menjadi pemasukan bagi jakarta terabaikan tapi malah dibuat pulau baru. Inilah ambisius yang hanya melihat kedepan dan sedikit melawan tuhan.

Lalu dollar yang menanjak perlahan menjadi pesat, gua melihat sebuah cuplikan video yang beredar jika bapak jokowi meyakinkan kami beberapa waktu lalu jika bulan kala gua menyaksikan video itu ekonomi indonesia akan menanjak layaknya roket tapi kenyataannya saat gua menyaksikan video dibulan janji pak jokowi dolar sedang gagah, dan menyiksa ekonomi tanah air. Gua yang membantu abang gua berjualan handphone, jelas merasakan bagaimana penjualan seperti masa pak SBY jadi sebuah kemustahilan. Ada rasa kecewa, tapi gua tak ikut andil pada pemilu kala itu maka tak ada peran gua atas kegagalan ini. Tapi ada sesal gua karena ketidak berhasilan ekonomi jadi lebih baik.

Pada bulan ramadhan bagaimana sebuah kericuhan harus dibuat dikala hati-hati muslim sedang berbunga-bunga menyambut bulan suci, berbeda dengan politik yang penuh kepalsuan. Dibulan ini bagaiman sebuah janji benar-benar nyata, didunia saja jelas terlihat keberkahannya. Gua yang pernah lama berkecimpung sebagai anak yatim serta pengurus anak yatim mempunyai keyakinan besar akan keberkahan seperti janji Allah dalam Al-Qur'an. "Orang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa." entah pelafalan kalimat yang salah atau beliau sedang mengantuk. Gua tidak menanggapi akan hal ini disaat semua orang seperti kebakaran jenggot mencacimaki. Beliau manusia biasa wajar salah, kecuali kesalahannya berkali-kali artinya ada kesengajaan. Kalimat itu disampaikan menteri yang menjabat pada masa bapak jokowi.

Gua juga mau bertanya apa bedanya antara bantaran ciliwung dengan pinggiran laut PIK dan pantai mutiara? Pada pelajaran PLKJ saat SD gua sudah diajarkan untuk tidak membuang sampah dikali dan tidak mendirikan bangunan di bantarannya. Apa karena PLKJ hanya membahas kali seolah laut tidak penting. Seolah membuang sampah dilaut lumrah sehingga tidak ada pencemaran lalu mendirikan bangunan ditepinya tidak menimbulkan masalah atau lain sebagainya. Mungkin gua yang belum mengerti tekhnologi yang digunakan mungkin berbeda. Kenapa bapak Ahok tidak menggunakan tekhnologi untuk PIK dibantaran ciliwung, sehingga tidak ada penggusuran yang menyakiti hati bapak jokowi.

Gua melihat berbagai kebencian sedang berperang di media sosial tapi entah mengapa media besar serempak memuja ketidakadilan. Gua yang anak ingusan yang tidak paham ini ingin bertanya dimana sikap netral mereka. Bahkan gua sering geli setiap stasiun tv seringkali lebih sering mengangkat pemberitaan tentang artis-artisnya saja yang diberitakan distasiun tv mereka dan mengabaikan yang lainnya. Kecuali benar-benar ada berita heboh dengan rating tinggi baru mereka serempak mengeruk uang darinya. Apa cuma gua yang awam ini saja yang memperhatikan jika kepala-kepala kita sedang dikendalikan layaknya sebuah hipnotis. Batin berkata tidak tapi tubuh terus mengiyakan, apa karena speaker yang dibungkam sehingga hati kita semakin hitam kelam sampai-sampai tidak sedikitpun mendengar kebenaran nyata. Mata kita juga hanya bisa melihat apa yang disuguhkan tanpa memejamkan mata sesaat untuk merenungkan kebenaran lalu mengingat tuhan. Hipnotis yang begitu kuat membuat sebuah sandiwara, layaknya uttaran ketika satu episode terlewat ada kecewa. Sandiwara negera gua begitu hebat bahkan sanggup mengatur isi-isi kepala manusianya.

Muncul sebuah ketakutan dalam diri gua, karena hati-hati kita seperti dibuat buta oleh sebuah pencitraan. Media suka tidak adil, hanya mengangkat bagian positif tentang pujaannya. Menanamkan secara paksa pemahamannya pada orang-orang tidak berdosa, pada masyarakat kecil yang hanya suka mengangguk saja. Apa cuma gua yang merasakan batin menolak tapi badan terbawa arus, kini sebisa mungkin gua berpegangan pada ranting-ranting kenyataan. Kasihannya orang kecil yang dibuat hanya angguk-angguk.

Gua seorang muslim yang tidak terlalu pintar bahkan masih sering terkuring pada dosa-dosa sebagai hamba. Tapi sering merasa miris ketika ada muslim-muslim yang terlalu berlebihan meluapkan amarah serta kekecewaannya pada pemimpin jakarta. Ajaran kita memang memerintahkan untuk memilih pemimpin yang seiman, tapi apa dengan kebencian dia akan turun justru kebencian membuat respect sebagian yang lain yang sama tidak setuju semakin bingung. Mereka yang tidak mendukung pemimpin jakarta mendapati muslim-muslim justru melakukan kesalahan yang meluapkan kebencian tanpa kontrol. Bukankah sebaiknya kita harus tenang, berpikir jernih. Jika tidak setuju mari bersatu, dukung mereka yang pantas, dukung mereka yang tepat sesuai aturan yang kita yakini. Bukankah bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Mereka menang karena bersatu yang buat mereka teguh.

Gua tidak berani juga menyalahkan media karena tidak semua salah. Tapi entah siapa yang buat skenario sehingga semua yang ada dinegara gua layaknya simalakama. Tidak ada yang benar tidak ada yang salah. Pada masa ini benar kata baginda nabi, ada masa dimana antara benar dan salah akan samar!

Meremehkan Hari, Menyepelekan Waktu

Apa kamu pernah pergi kehutan belantara, kemudian bingung arah dan tujuan. Terperangkap pada kebingungan, ketidaktahuan, kamu sedang tersesat. Sekeliling kamu hanya ada pepohonan yang tidak mungkin kamu bicara dengannya. Bagaimana rasanya seorang diri tersesat dalam hutan yang tidak menawarkan tujuan? Kalau kamu pernah! Ini yang sedang gua rasain saat hari pertama masuk kuliah. Kalau kamu bertanya kenapa gua membandingkan hari pertama kuliah dengan hutan belantara? Dimana kesamaannya?

Jelas ada satu kesamaan, dimana gua seperti tidak tahu kemana harus mengarah, pada siapa menyapa, rasa canggung, kesendirian tidak seorangpun yang gua kenal. Ini kali kedua gua merasakan hal yang sama, teman-teman gua sudah menyelesaikan perjuangan mereka dengan gelar S,kom dibelakang nama mereka, kemudian gua masih terkungkung didalam sisa-sisa kelalaian gua yang meremehkan hari, menyepelekan waktu. Gua harus menyelesaikan 4 mata kuliah disemester 9. Lho? Bukannya S1 itu cuma perlu 8 semester, ya lu bener! Tapi special buat gua harus 10 semester untuk sebuah gelar S,kom yang sedang gua usahakan.

Gua datang ke kampus untuk masuk pertama kali setelah dua minggu jadwal kuliah dimulai. Hujan deras menyertai perjalanan gua, ditengah jalan gua teringat jika kelas gua hari ini S3D, di gedung mana kelas tersebut? Tu...t, tu...t, tut
"Iya tra kenapa?" Gua menepi kemudian menelpon irul,

"S3D itu gedung apaan ya rul? Ntar gua udah sampe di gedong, dia di rancho lagi." Gua coba menanyakan pada Irul setengah berteriak dan terburu-buru jam sudah menunjukkan pukul 18.25, mata kuliah pertama dimulai pukul 18.30. Irul merupakan mantan ketua kelas yang paling faham tentang segala hal tentang kampus, dia yang menyokong kami selama hampir 4 tahun kuliah, terimakasih irul. Tidak banyak orang yang akan berterimakasih berkat bantuan lu? Mereka akan mudah lupa jika setiap waktu mereka bertanya tentang banyak hal selama 4 tahun namun lupa seketika setelah semua selesai yang sebenarnya selalu ada peran irul dalam setiap moment kelas yang terjadi. Gua akan berterimakasih dengan cara membuat sebuah tulisan tidak penting ini.

"Tra, ruang itu pakai nomor. Sedangkan kelas itu seperti yang lu sebutin tadi." Suara datar irul terdengar dari seberang, dia punya suara datar yang berwibawa penuh ketenangan. Berbanding terbalik dengan gua,

"Oh iya, bodohnya gua. Efek terlalu lama tidak pergi kekampus." Gua menepok jidat, kenapa gua begitu bodoh. Disepanjang jalan gua kembali terpikir bagaimana caranya mengetahui ruangan. Gua terus berpikir apa mungkin gua harus mendatangi satu persatu kelas. Dulu selalu ada irul yang memberi tahu ruangan baru kami secara detail. Sekarang dia sudah selesai dan menjadi sarjana, bagaimana caranya?

Sesampai dikampus hujan sudah reda gua mengarah ke receptionist,

"mbak saya mau tanya bagaimana ya caranya saya tahu ruangan?"

"memangnya mas mahasiswa yang baru masuk?" Tanya perempuan cantik receptionist dengan suara medog khas jawa tengah. Gua mengangguk,

"mas coba ke TU aja, nanti disana ada kok daftar ruangannya." solusi cerdas, otak gua sudah terlanjur buntu menghadapi dunia perkuliahan. Gua meneruskan semua ini hanya untuk sebuah gelar, untuk sebuah kebanggaan, sebuah tanggung jawab karena gua sudah menghabiskan banyak uang abang serta kakak ipar gua selama 4 tahun untuk hasil kini terbengkalai.

"Pak,  saya mau tanya ruangan." Pada seorang pria gemuk berkacamata. Orang TU rata-rata semua jutek buat gua segan untuk banyak bertanya, apa mereka harus begitu. Coba sedikit ramah pasti menyenangkan pelayanan mereka. Beban kerja atau apalah buat mereka jadi seperti itu,

"S3D, S1G,S7A,S7L." gua langsung menyebutkan nama kelas yang gua tuju,

"441,641,411,431." Gua mencatat nama ruangan kemudian setengah berlari menuju gedung 4 lantai 4 ruang 1, jam 19.00 berlalu, gua sudah telat.

"Benar ini mata kuliah kalkulus 1 ya?" Gua bertanya pada seorang gadis yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya.

"he-eh, eh bukan, kalkulus 3 ini." jawabnya. Gua salah berarti,

"Oke terimakasih." kemudian gua keluar kelas. Mengganti sendal jepit dengan sepatu karena hujan tadi. Gua kembali mengecek kertas jadwal lagi, ternyata memang kalkulus 3 di kelas S3D bukan kalkulus 1 besok baru kalkulus 1. Gua kembali masuk kelas,

"Oh iya ada nomor ketua kelasnya enggak buat tanya-tanya jadwal." Gua kembali bertanya pada gadis tadi.

"Boleh 0-8-2-x-xxxx-xxxx, namanya fidul." jawab gadis tersebut. Gua kembali berterimakah kemudian mencari kursi kosong bagian paling depan. Dosen belum datang, semua orang asyik bicara pada masing-masing temannya, sedang gua hanya duduk seorang diri dibangku bagian depan tanpa seorangpun menemani. Sepi ditengah keramaian, rasanya gua sedang berada disebuah hutan mereka hanya pepohonan sedang gua cuma bisa melirik sedikit kekiri dan kanan untuk melihatnya. Sekeliling begitu sepi. Gua mulai mengerti betapa penting teman-teman dikelas gua dulu, bersama mereka tidak kecanggunggan, tanpa mereka gua hanya sebuah butiran diantara yang lain.

Dosen datang, gua menghampirnya dosen muda untuk mata kuliah kalkulus 3,

"Bu saya ngulang di mata kuliah kalkulus 3," Gua langsung menyampaikan kehadiran gua dikelas ini.

"Nama kamu siapa?"

"Putra Afriansyah bu."

"Dosen sebelumnya siapa?"

"Siapa ya, lupa bu."

"Cewe atau cowo?"

"Mungkin cewe bu,"

"mungkin? yaudah oke kamu duduk aja." perintahnya, dosennya saja gua lupa. Disitu gua mulai terpikir betapa tidak seriusnya gua. Pelajaran dimulai sin, cos, tan, eksponen, dll apa ini gua tidak mencintai mata kuliah ini buat gua kesulitan menjalaninya. Gua berusaha membuka mata memperhatikan sejenak tapi apa ini? Hati sedikitpun tidak menyukai mata kuliah ini walaupun dosen kali ini rasanya lebih baik.

Sejam rasa seharian menunggu mata kuliah kalkulus 3 selesai. Gua memang tidak mencintai mata kuliah ini, jadi gua tidak memiliki kemampuan untuk berjuang menjadi bisa pada mata kuliah ini.

Akhirnya usai juga, selanjutnya adalah kelas S7A di ruang 411 untuk mata kuliah etika profesi, dimana gua mengikuti ujian susulan namun nilai tidak muncul. Ada rasa kecewa tapi mau bagaimana? Gua sudah berusaha menghubungi dosen, gua sudah berusaha mendatangi prodi, gua sudah berputar-putar dibuatnya kesana-kesini dengan hasil nihil. Entah siapa yang lalai? siapa yang salah? Kenyataannya gua harus mengulang mata kuliah tersebut hari ini.

Saat masuk kelas, dosen yang masih sama untuk mata kuliah yang sama. Gua kembali berjumpa dengan Bapak Ismaillah, dosen mata kuliah etika profesi disemester 7 yang lalu. Suatu kebetulan, sebelumnya gua terus menanyakan dikelas mana bapak ismaillah ditempatkan karena gua pasti lebih mudah mendapatkan nilai karena dia telah berjanji.

Perkuliahan dimulai mata gua malah tidak bisa berkompromi, gaya mengajar yang khas dari pak ismaillah ialah mengajak mahasiswa untuk berdiskusi serta saling lempar tanya kali ini temanya adalah filsafat etika. Mata tertutup, gua hanya mendengarkan materi secara samar-samar. Lelah rasanya, karena malam kemarin gua futsal sampai pukul 23:30, baru terlelap pada 01:00. Bangun pukul 5, ini hari pertama gua full buka pagi ada di counter. Wajar jika kantuk datang menyerang apalagi suasana mendukung.

"Kamu tampak lelah tadi." Sapa pak Ismaillah kala kami berjumpa diluar kelas usai mata kuliahnya.

"iya pak, enggak tau matanya ga bisa diajak kompromi."

"Pekerjaan kamu apa?" tanyanya lagi.

"Saya jaga counter pak,"

"usaha sendiri?" timpanya

"Alhamdulillah baru mulai pak."

"Artinya kamu tidak terlalu butuh nilai bagus untuk lulus bukan?" dia menebak, yang terpenting buat gua saat ini adalah lulus dan gelar sarjana itu saja. Gua mengangguk,

"Bagaimana kalau saya kasih kamu keringanan. Kamu boleh tidak hadir dimata kuliah saya agar kamu fokus kerja atau mengejar nilai mata kuliah lain syaratnya kamu harus dua presentasi sendiri dikelas. Sekali sebelum UTS, sekali setelah UTS bagaimana kamu berani?"  Gua mengangguk. Lumayan 11 pertemuan gua tidak perlu hadir. Boleh juga.

"Oke kamu punya whatsapp saya? Nanti saya kirim judul materi via whatsapp." Katanya lagi.

"Baiklah sehat dan sukses selalu putra." Diakhir pertemuan pak Ismaillah selalu mendoakan orang yang dia jumpai. Sebuah sikap positif, gua wajib menirunya.

Gua merapikan jaket, mengambil masker lalu ke parkiran. Menarik gas panjang untuk pulang.